BAGAIMANA CARA MENYADARKANNYA ?

BAGAIMANA CARA MENYADARKANNYA ?

Begitu gemuruh gerombolan penyesat umat, ahli bid’ah, kaum sufi, syi’ah rafidoh, pemuja kuburan, dukun bersorban dan penipu umat lainnya.

mereka ramai-ramai menyeret umat, dan umat pun semarak gegap gempita menyambut tokoh-tokoh penyesat umat tersebut dan menjadikannya sebagai manusia tanpa cela.

Tokoh-tokoh penyesat umat yang mereka idolakan dan dewakan, mendoktrin umat untuk selalu manut, nurut, taklid kepada apa yang di ajarkannya.

Sungguh malang nian umat yang sebetulnya mereka punya gairah yang besar mendalami agama tapi malah terperosok kedalam kesesatan yang bisa melemparkannya kedalam api neraka.

Bagaimana perasa’an kita menyaksikan orang-orang yang menyimpang tersesat dalam agama bahkan setelah itu mereka menyesatkan orang lain ?

Sungguh amat menyedihkan mengiris hati terlebih lagi mereka itu adalah orang terdekat kita, sahabat atau kerabat misalnya ?

Ingin rasanya mengatakan kepadanya kalau fahamnya itu salah, rusak, menyimpang dan sesat. Tapi tentu saja apa yang kita ucapkan itu tidak mungkin bisa diterimanya, malah sebaliknya dia bisa mengatakan justru kita yang rusak, menyimpang dan tersesat.

Apakah terus dibiarkan mereka seperti itu ?

Dengan cara apa harus kita peringatkan ?

Dengan perkata’an ?

Rasanya tidak mungkin, karena mereka punya sederet tokoh yang di idolakan yang selalu didengarkan kata-katanya.

Dengan tulisan ?

Juga sepertinya tidak mungkin, tulisan yang kita berikan akan dicampakkannya, karena hanya tulisan dari ustad-ustadnya, guru-gurunya yang selalu dia simak dan perhatikan.

Adapun perkata’an dan tulisan yang datang selain dari ustadz-ustadznya menurutnya adalah salah, tidak benar dan harus di jauhi.

Mungkin ustadz-ustadznya, teman-teman pengajiannya selalu berpesan :

”ILMU DARI USTADZ-USTADZ KITA SUDAH CUKUP”.

”Jangan mau diajak ngaji ke tempat yang tidak sefaham dengan kita, keluar dari masjid kalau ustadznya bukan dari kalangan kita”.

Mungkin begitu mereka saling berpesan, mungkin juga ustadz-ustadznya yang mengajarkan jangan duduk-duduk dengan orang yang tidak sefaham dengan kita.

Subhanallaah . .

”Kalau sudah begitu apa yang bisa kita lakukan ?

Hanya bisa mengelus dada . .

”Aku sayang kamu, aku tidak mau kamu tersesat. Aku ingin meluruskan kamu”.

Bukan ingin kelompokku jadi besar bertambah jama’ahnya, karena aku tidak berbaris di salah satu kelompok. Aku tidak ta’ashub (fanatik) kepada kelompok tertentu.

”Aku hanya sayang sama kamu, aku tidak mau kamu menyimpang sampai tersesat dan menyesatkan orang lain”.

Shalafus Shaleh adalah generasi terbaik umat, mereka tidak mengajarkan fanatik kepada suatu kelompok.

Imam Malik berfaham kalau baca fatihah basmalahnya tidak di keraskan tapi ketika berkunjung ke Madinah dan di minta jadi Imam, Imam Malik mengeraskan baca’an basmalahnya ketika baca fatihah. Karena di Madinah baca’an basmalahmya di keraskan. Imam Malik tidak membid’ahkan orang yang tidak sefaham dengannya. Itulah contoh Shalafus Shaleh, teladan umat. Generasi terbaik umat.

Kenapa mereka yang menyimpang, tertipu dan menipu yang lainnya sulit sekali meninggalkan keyakinannya ?

Jauhnya dari bimbingan ulama yang benar dan manhaj yang rusak, sehingga menjadikan mereka demikian.

Apakah tidak diajarkan oleh ustadz-ustadznya bahwa :

– Taklid itu tidak dibenarkan dalam Islam, Shalafus Shalih tidak ada yang menyuruh umat untuk taklid kepada siapapun.

– Siapapun, Ulama manapun dan sehebat bagaimanapun seorang Ulama tetaplah manusia yang bisa salah, keliru dan tergelincir.

– Islam melarang untuk ta’ashub, fanatik kepada salah satu kelompok, fanatik kepada ustadz-ustadz dari kalangan tertentu saja.

Apakah ustadz-ustadz mereka yang di idolakan dipuja setinggi bintang di langit tidak mengajarkan kepada mereka bahwa para Sahabat pun, para Imam pun mereka ada beda pendapat, tetapi diantara para Sahabat para Imam tidak ada yang melarang umat untuk tidak mendengarkan pendapat dan faham yang lainnya. Mereka tidak saling membid’ahkan saling menyesatkan.

Melihat realita yang nyata terjadi kepada mereka, sungguh aku tidak berdaya.

Karena sifat takabur, merendahkan orang selain dari ustadz-ustadznya, sehingga menjadikan mereka sulit menerima peringatan dan nasehat.

Bagi mereka :

– Yang benar adalah orang yang sefaham dengannya

– Yang benar adalah ustadz-ustadznya

– Yang benar adalah yang di sampaikan teman-temannya.

Siapa yang menjamin saudaraku, faham dan keyakinanmu selalu benar. Dan yang di fahami orang lain selalu salah ?

Aku ingin meluruskanmu saudaraku, karena cinta sebagai sesama muslim, tidak lebih dari itu, disamping kewajiban yang di bebankan kepada setiap individu.

Aku tahu saudaraku, kalian terhipnotis oleh tokoh-tokoh kalian. Ustadz-ustadz kalian begitu mahir dan fasih memainkan dalil begitu lantang ketika berhujah.

Sehingga kalian terpana terpesona, terpukau dan menjadikan kalian semakin fanatik dan ta’ashub, semakin besar cintamu kepada mereka, sehingga membutakan hati dan mata kalian.

Kalau sudah begitu tidak akan berarti lagi orang yang menasehati dan memperingatkan kalian, bahkan hujatan dan cela’an bisa di hujamkan kepada siapapun yang datang untuk meluruskan kalian.

Ya Allah hanya kekuasa’anmu yang bisa meluruskan mereka.

Apalah artinya aku ini, yang tidak fasih berdalil yang tidak bisa berhujah.

Jika ku paksakan menasehati, memperingatkan dan meluruskan kalian, yang ku dapatkan pastinya hanya cibiran.

Saudaraku, kalian memang pandai membantah.

Ya . . memang membantah itu mudah, sangat mudah.

Siapapun bisa membantah tak terkecuali orang bodoh bahkan anak kecil sekalipun bisa membuat bantahan bagi siapa saja yang ingin di bantah.

Bisa membantah tidak berarti keyakinanya di bangun diatas ilmu saudaraku, karena tidak semua bantahan itu ada ilmunya, sebab ilmu itu hanya bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, begitu pula bodoh bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, tapi ilmu tidak akan bisa dilihat oleh kebodohan, sebab kebodohan hanya melihat kebodohan sebagai satu-satunya ilmu.

Dan tidak ada yang dapat menyadarkan orang bodoh tentang kebodohannya meski langit runtuh di depannya.

_____

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s