Category Archives: BERSATULAH AHLU SUNNAH

HUKUM ORGANISASI DAN TA’AT PADA PIMPINANNYA

HUKUM ORGANISASI DAN TA’AT PADA PIMPINANNYA

Membuat organisasi untuk tujuan-tujuan kebaikan terutama dalam rangka dakwah dan menolong agama Islam adalah sebuah kebaikan. Namun yang menjadi masalah apakah anggota organisasi wajib ta’at kepada pimpinan organisasi sebagaimana wajibnya ta’at kepada pimpinan negara ?

• HUKUM ORGANISASI

Membuat organisasi adalah perkara muamalah, dan muamalah itu hukum asalnya mubah. Dan tentu saja membuat organisasi untuk dakwah dan menolong Islam adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al Maidah: 2).

Para ulama mengatakan bahwa membuat organisasi atau yayasan atau perkumpulan dalam rangka kebaikan adalah hal yang dibolehkan, selama tidak dijadikan sarana tahazzub (fanatik kelompok), dan tidak dijadikan patokan al wala wal bara’ sehingga sesama anggota organisasi dianggap teman dan di luar organisasi dianggap lawan.

Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi mengatakan: “Disyariatkannya organisasi, yayasan, atau perkumpulan sosial adalah perkara yang tidak diingkari oleh siapapun. Selama aktifitas organisasi-organisasi tersebut dalam rangka menolong, membelanya dan mendukung al haq. Dengan syarat, anggotanya bebas dari sifat tahazzub (fanatik kelompok) yang tercela, dan dari finah harta, dan hal-hal yang memperburuk dakwah di setiap tempat. Adapun jika aktifitas organisasi ini hanya untuk pencitra’an, padahal di balik itu ada perkata’an-perkata’an menyimpang seperti mencela para ulama bahwa mereka murji’ah atau jahmiyah atau mengatakan bahwa mereka itu bodoh terhadap realita umat, atau organisasi tersebut menggiring umat kepada fitnah terhadap penguasa, lalu mulailah fitnah takfir dan berakhir dengan pembunuhan, penghalalan darah dan pengeboman, atau organisasi yang memerintahkan anggotanya untuk berbaiat sehingga memecah belah kaum muslimin, maka organisasi yang demikian ini semua bukanlah aktifitas dari organisasi yang baik. Dan tidak selayaknya para donatur menyalurkan dana-dana mereka pada organisasi-organisasi yang demikian” (Siraajul Wahhaj Bi Shahihil Minhaj, 99).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyatakan : “organisasi jika memang sudah banyak tersebar di berbagai negeri Islam dan dibangun dalam rangka memberi bantuan dan dalam rangka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa antar sesama muslim, tanpa diselipi dengan hawa nafsu, maka ini sebuah kebaikan dan keberkahan. Dan manfa’atnya sangat besar. Adapun jika antar organisasi menyesatkan organisasi yang lain dan saling mencela aktifitas organisasi lain, maka ini bahayanya besar dan fatal akibatnya” (Majmu’ Fatawa Mutanawwi’ah 5/202-204, bisa dilihat di http://www.binbaz.org.sa/mat/46).

Dan tidak benar sebagian orang yang menuduh orang yang ikut dalam organisasi Islami telah terjerumus dalam hizbiyah dan bid’ah yang tercela.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan : “Organisasi apapun yang dibangun dengan asas Islam yang shahih, yang hukum-hukumnya diambil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah sesuai dengan apa yang dipahami salafus shalih, maka organisasi apapun yang dibangun dengan asas ini tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Dan tidak ada alasan untuk menuduhnya dengan hizbiyyah. Karena ini semua termasuk dalam firman Allah Ta’ala : “Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa“. Dan saling tolong-menolong itu adalah tujuan yang syar’i. Dan organisasi ini telah berbeda-beda sarananya dari zaman ke zaman dan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain. Oleh karena itu menuduh organisasi yang memiliki asas demikian dengan tuduhan hizbiyyah atau bid’ah adalah hal yang tidak ada alasan untuk mengatakannya. Karena ini menyelisihi apa yang dinyatakan oleh para ulama dalam membedakan antara bid’ah yang disifati sesat dengan sunnah hasanah” (Silsilah Huda Wan Nuur, no.590, transkrip dari http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=8964).

Oleh karena itu, kita pun melihat para ulama dari zaman ke zaman mereka juga membuat organisasi diantaranya Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta, Hai’ah Kibaril Ulama, Majma’ Fiqhil Islami, dll.

• WAJIBKAH TA’AT KEPADA PIMPINAN ORGANISASI ?

Secara umum, ta’at kepada pimpinan organisasi hukumnya wajib karena hal-hal berikut :

1. Sebagai bentuk ta’at pada ketentuan yang disepakati ketika menjadi anggota organisasi.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

المسلمون على شروطهم

“Kaum Muslimin itu wajib mematuhi persyaratan yang mereka sepakati” (HR. Abu Daud 3594).

2. Menghindari bahaya

Ketidak patuhan terhadap pimpinan organisasi bisa menyebabkan bahaya diantaranya :

◦Sulitnya mencapai tujuan baik dari organisasi tersebut
◦Membuka pintu-pintu perselisihan dan perpecahan
◦Hilangnya wibawa pimpinan
◦Urusan tidak teratur dan menjadi cerai berai

(lihat kitab Akhlaqiyatul Mihnah Fil Islam, DR. Asham bin Abdil Muhsin Al Humaidan).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

لا ضرَرَ ولا ضِرارَ

“Jangan membahayakan diri sendiri dan orang lain” (HR. Ibnu Majah 1910, An Nawawi dalam Al Arbain mengatakan: “hasan”)

3. Pemimpin diangkat untuk dita’ati

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

إذا كان ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدهم

“jika tiga orang bersafar, hendaknya salah seorang dari mereka menjadi amir (pemimpin)” (HR. Abu Daud 2609).

Para ulama berdalil dari hadits ini bahwa pemimpin safar wajib dita’ati, demikian juga pemimpin dari kumpulan manusia lainnya untuk mencapai suatu tujuan. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad ketika ditanya mengenai hukum ta’at kepada pimpinan organisasi, Beliau menjawab : “Manusia diperintahkan untuk memilih amir (pimpinan) dalam safar untuk didengar dan dita’ati. Tidak ada artinya jika pimpinan tidak didengar dan tidak dita’ati. Jika demikian maka adanya kepemimpinan seperti tidak adanya” (Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/32007).

Tidak ada artinya jika pimpinan tidak didengar dan tidak dita’ati. Jika demikian maka adanya kepemimpinan seperti tidak adanya

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin juga menjelaskan: “zhahir hadits ini, bahwa pimpinan itu jika para anggota telah ridha (ia jadi pimpinan) maka wajib dita’ati dalam hal-hal yang terkait dengan maslahat safar. Karena ia adalah pimpinannya. Adapun hal-hal yang tidak terkait dengan urusan safar maka tidak wajib taat, semisal dalam masalah pribadi seseorang anggota” (Syarh Riyadish Shalihin, 4/586).

Dengan demikian, kita juga bisa simpulkan bahwa keta’atan kepada pimpinan organisasi bukanlah keta’atan yang mutlak, namun keta’atan yang terbatas hanya pada urusan organisasi. Adapun di luar urusan organisasi maka tidak ada kewajiban untuk ta’at. Dalam urusan organisasi pun keta’atan pada pimpinan organisasi dibatasi oleh syariat, tidak boleh ta’at kepadanya pada hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

لا طاعةَ لمَخلوقٍ في مَعصيةِ الخالِقِ

“Tidak ada keta’atan pada makhluk dalam perkara maksiat kepada Al Khaliq” (dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 7520).

Namun mengenai keta’atan pada pimpinan organisasi, para ulama merincinya sebagai berikut :

– Jika organisasi tersebut adalah organisasi pemerintah atau milik pemerintah, maka ta’at pada pemimpin organisasi ketika itu sebagaimana ta’at kepada pemerintah.

– Jika organisasi tersebut adalah organisasi bukan milik pemerintah (NGO), maka ta’at pada pemimpin organisasi wajib namun terbatas pada urusan organisasi dan tidak sama seperti ta’at kepada pemerintah.

Syaikh Ubaid Al Jabiri menyatakan : “kepala sekolah atau rektor universitas, keta’atan pada mereka adalah keta’atan kepada regulasi yang diberlakukan waliyul amr pada mereka. Dan ini bukanlah keta’atan yang mutlak, namun keta’atan yang muqayyad. Demikian juga kepala sekolah dan kepala departemen pemerintah. Adapun keata’atan yang mutlak itu kepada waliyul amr. Adapun mereka-mereka itu, mereka memiliki kekuasaan, namun terbatas pada ruang lingkup kerja mereka. Demikian juga kepada kampung, kalau tidak salah disebagian daerah disebut umdatul qaryah, mereka memiliki ruang lingkup yang terbatas. Maka tidak dikatakan mereka itu memerintahkan atau melarang ini dan itu, mereka hanya sekedar menyampaikan. Dan kepala kabilah itu hendaknya dimuliakan dan dihormati, mereka juga dita’ati dalam urusan menyatukan kabilah, bukan dalam semua hal” (Sumber: http://ar.miraath.net/fatwah/5535).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “jika organisasi itu berasal dari waliyul amr, maka wajib menta’ati apa yang ia perintahkan. Karena ia adalah wakil dari waliyul amr, yang wajib dita’ati selain dalam perkara maksiat kepada Allah. Namun jika organisasi itu independen, tidak ada hubungan dengan pemerintah, maka jika para anggotanya ridha bahwa si fulan ini jadi pimpinan mereka, maka menta’atinya wajib. Namun jika anggotanya tidak ridha, maka tidak wajib menta’atinya. ” (Sumber: http://islamancient.com/play.php?catsmktba=21712).

Demikian semoga bermanfa’at, wabillahi at taufiq was sadaad.

Penulis : Yulian Purnama

http://muslim.or.id/manhaj/hukum-organisasi-dan-taat-pada-pimpinan-organisasi.html

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

FENOMENA TAHDZIR, CELA-MENCELA SESAMA AHLUS SUNNAH DAN SOLUSINYA

FENOMENA TAHDZIR, CELA-MENCELA SESAMA AHLUS SUNNAH DAN SOLUSINYA

Oleh : Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr

Pada masa sekarang ini, ada sebagian ahlussunnah yang sibuk menyerang ahlussunnah lainnya dengan berbagai cela’an dan tahdzir. Hal tersebut tentu mengakibatkan perpecahan, perselisihan dan sikap saling tidak akur.

Padahal mereka saling cinta mencintai dan saling berkasih sayang, serta bersatu padu dalam barisan yang kokoh untuk menghadapi para ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlussunnah.

Adanya fenomena diatas disebabkan dua hal :

Pertama, Ada sebagian ahlussunnah pada masa sekarang ini yang menyibukkan diri mencari-cari kesalahan ahlussunnah lainnya dan mendiskusikan kesalahan tersebut, baik yang terdapat di dalam tulisan maupun kaset-kaset. Kemudian dengan bekal kesalahan-kesalahan tersebut mereka melakukan tahdzir terhadap ahlussunnah yang menurut mereka melakukan kesalahan.

Salah satu sebab mereka melakukan tahdzir adalah karena ada Ahlussunnah lain yang bekerjasama dengan salah satu yayasan yang bergerak dalam bidang keagama’an untuk mengadakan ceramah-ceramah atau seminar-seminar keagamaan. Padahal Syaikh abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah memberikan ceramah kepada pengurus yayasan keagama’an tersebut melalui telepon. Dan kerjasama Ahlussunnah lain dengan yayasan tersebut sebenarnya sudah dinyatakan boleh oleh dua ulama besar itu dengan fatwa.

Oleh karena itu, hendaknya mereka introspeksi terhadap diri mereka terlebih dahulu sebelum menyalahkan dan mencela pendapat orang lain, apalagi tindakan ahlussunnah lain tadi bersumber dari fatwa ulama besar. Anjuran introspeksi diri seperti ini pernah disampaikan oleh sebagian Sahabat Rasulullah setelah dilangsungkannya perjanjian Hudaibiyah. Sebagian sahabat ada yang berkata, “Wahai Manusia, hendaklah kalian mau introspeksi diri agar tidak menggunakan akal kalian dalam masalah agama.”

Amat disayangkan, padahal mereka yang dicela itu telah banyak membantu masyarakat, baik melalui pelajaran-pelajaran yang disampaikan, karya-karya tulis, maupun khotbah-khotbahnya. Mereka di-tahdzir hanya dikarenakan tidak membicarakan tentang si Fulan atau jama’ah tertentu. Sayang sekali memang, fenomena cela mencela dan tahdzir ini telah merembet ke negeri Arab. Ada di antara mereka yang terkena musibah ini yang memiliki keilmuan yang luas dan memiliki usaha yang keras dalam menampakkan, menyebarkan dan menyeru kepada Sunnah. Tidak diragukan lagi bahwa tahdzir terhadap mereka telah menghalangi jalan bagi para penuntut ilmu dan orang-orang yang hendak mengambil manfaat dari mereka, baik dari sisi ilmu maupun ahlak.

Kedua : Ada sebagian Ahlussunnah yang apabila melihat kesalahan Ahlussunnah lain, maka mereka menulis bantahannya, lalu pihak yang dibantah membalas bantahan tersebut dengan bantahan yang serupa. Pada akhirnya kedua belah pihak sibuk membaca tulisan-tulisan pihak lawan atau mendengarkan kaset-kaset, yang lama maupun yang baru, dalam rangka mencari kesalahan dan kejelekkan lawannya, padahal boleh jadi kesalahan-kesalahan tadi hanya disebabkan karena terpeleset lidah. Semua itu mereka kerjakan secara perorangan atau secara berkelompok. Kemudian tiap-tiap pihak berusaha untuk memperbanyak pendukung yang membelanya dan merendahkan pihak lawannya. Kemudian para pendukung di tiap pihak berusaha keras membela pendapat pihak yang didukungnya dan mencela pendapat pihak lawannya. Merekapun memaksa setiap orang yang mereka temui untuk mempunyai sikap yang jelas terhadap orang-orang yang berada di pihak lawan.

Apabila orang tersebut tidak mau menunjukkan sikapnya secara jelas, maka dia pun dianggap masuk sebagai kelompok ahli bid’ah seperti kelompok lawannya. Sikap tersebut biasanya diikuti dengan sikap tidak akur satu pihak dengan pihak lainnya. Tindakan kedua belah pihak serupa dengan itu merupakan pangkal muncul dan tersebarnya konflik pada skala yang lebih luas. Dan keada’an bertambah parah, karena pendukung masing-masing kelompok menyebarkan cela’an-cela’an tersebut di jaringan internet, sehingga para pemuda ahlussunnah di berbagai negeri, bahkan lintas benua menjadi sibuk mengikuti perkembangan di website masing-masing pihak. Berita yang disebarkan oleh masing-masing pihak hanyalah berita-berita qila wa qala saja, tidak jelas sumbernya, dan tidak mendatangkan kebaikan sedikit pun, bahkan hanya akan membawa kerusakan dan perpecahan. Sikap yang dilakukan para pendukung masing-masing pihak seperti orang yang bolak balik di papan pengumuman untuk mengetahui berita terbaru yang ditempel. Mereka juga tidak ubahnya seperti supporter olahraga yang saling menyemangati kelompoknya. Permusuhan, kekacauan dan perselisihan sesama mereka merupakan akibat dari dihasilkan sikap-sikap seperti itu.

SOLUSI PERMASALAHAN

Ada Beberapa Solusi Yang Bisa Diketengahkan Dalam Permaslahan Ini.

Pertama.

Berkaitan dengan cela mencela dan tahdzir perlu diperhatikan beberapa perkara sebagai berikut :

1. Orang-orang yang sibuk mencela ulama dan para penuntut ilmu hendaknya takut kepada Allah subhanahu wa Ta’ala dengan tindakkannya tersebut. Mereka hendaknya lebih menyibukkan diri memperhatikan kejelekkan dirinya sendiri agar bisa terbebas dari kejelekan orang lain. Mereka hendaknya berusaha menjaga kekalnya kebaikan yang dia miliki. Janganlah mereka mengurangi amal kebaikan mereka walaupun sedikit, yaitu dengan membagi-bagikannya kepada orang-orang yang dia cela. Hal itu karena mereka lebih membutuhkan kebaikan tersebut dibanding yang lain pada hari dimana harta dan anak-anak takkan berguna kecuali orang yang datang kepada Allah Ta’ala dengan hati yang selamat. [Maksudnya pada hari kiamat]

2. Hendaknya mereka berhenti melakukan cela-mencela dan tahdzir, lalu menyibukkan diri memperdalam ilmu yang bermanfaat, bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu agar bisa manfaat dari ilmu tersebut dan menyampaikannya kepada orang lain yang membutuhkannya. Hendaknya mereka menyibukkan diri dengan kegiatan keilmuan, baik dengan belajar mengajar, berdakwah atau menulis. Semua itu jelas lebih membawa kebaikan. Jika mereka melakukan tindakan-tindakan yang baik seperti itu, tentu mereka dikatakan sebagai orang-orang yang membangun. Jadi, janganlah mereka sibuk mencela sesama ahlussunnah, baik yang ulama maupun penuntut ilmu, karena hal itu akan menutup jalan bagi orang-orang yang mendapatkan manfa’at keilmuan dari mereka. Perbuatan-perbuatan seperti itu adalah temasuk perbuatan-perbuatan yang merusak. Orang-orang yang sibuk dengan tindakan cela-mencela seperti itu, setelah mereka meninggal tidak meninggalkan bekas ilmu yang bermanfa’at, dan manusia tidak merasa kehilangan para ulama yang ilmunya bermanfaat bagi mereka, bahkan sebaliknya, dengan kematian mereka manusia merasa selamat dari keburukan.

3. Para penuntut ilmu dari kalangan ahlussunnah hendaknya menyibukkan diri dengan kegiatan keilmuan seperti membaca buku-buku yang bermanfa’at, mendengarkan kaset-kaset ceramah para ulama ahlussunnah seperti Syaikh bin Baz, Syaikh Ibnu Utsiamin, daripada sibuk menelepon fulan atau si Fulan bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang Fulan atau Fulan ?” atau “Bagaimana komentarmu tentang pernyata’an Fulan terhadap si Fulan dan tanggapan si Fulan terhadap si Fulan ?”

4. Berkaitan dengan pertanyaan tentang orang-orang yang sibuk dalam bidang keilmuan, mereka boleh dimintai fatwa atau tidak, selayaknya hal tersebut ditanyakan kepada pimpinan Lembaga Fatwa di Riyadh. Dan siapa yang mengetahui keada’an mereka, hendaknya mau melayangkan surat kepada pimpinan Lembaga Fatwa yang berisi penjelasan tentang keadaan mereka untuk dijadikan bahan pertimbangan. Hal itu dimaksudkan agar sumber penilaian cacat seseorang dan tahdzir, apabila memang harus dikeluarkan, maka yang mengeluarkan adalah lembaga yang berkompeten dalam masalah fatwa dan berwenang menjelaskan tentang siapa-siapa yang dapat diambil ilmunya dan dimintai fatwa. Tidak diragukan lagi bahwa lembaga yang dijadikan sebagai rujukan fatwa dalam berbagai permasalahan, juga selayaknya dijadikan sebagai sumber rujukan untuk mengetahui siapa yang boleh dimintai fatwa dan diambil ilmunya. Hendaknya janganlah seseorang menjadikan dirinya sebagai tempat rujukan dalam perkara yang sangat penting ini, karena sesungguhnya termasuk tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi dirinya.

Kedua,

Berkaitan dengan cara membantah orang yang melakukan kekeliruan pendapat perlu diperhatikan beberapa perkara sebagai berikut :

1. Hendaknya bantahan tersebut dilakukan dengan penuh keramahan dan kelemah-lembutan disertai keinginan yang kuat untuk menyelamatkan orang yang salah tersebut dari kesalahannya, apabila kesalahannya jelas terlihat. Selayaknya seseorang yang hendak membantah pendapat orang lain merujuk bagaimana cara Syaikh bin Baz tatkala melakukan bantahan, untuk kemudian diterapkannya.

2. Apabila kesalahan orang yang dibantah tadi masih samar, mungkin benar atau mungkin juga salah, maka selayaknya masalah tersebut dikembalikan kepada pimpinan Lembaga Fatwa untuk diberi keputusan hukumnya. Adapun apabila kesalahannya jelas, maka wajib bagi orang yang dibantah tersebut untuk meninggalkannya. Kerena kembali kepada kebenaran adalah lebih baik dari pada tetap tenggelam dalam kebatilan.

3. Apabila seseorang telah membantah orang lain, maka berarti dia telah menunaikan kewajiban dirinya, maka hendaknya dia tidak menyibukkan diri mengikuti gerak-gerik orang yang dibantah. Sebaliknya, dia selayaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfa’at, baik bagi dirinya maupun orang lain. Begitulah sikap yang dicontohkan oleh Syaikh bin Baz.

4. Seorang penuntut ilmu tidak diperbolehkan mengajak orang lain serta memaksanya untuk memilih si Fulan (yang dibantah) atau ikut dia (yang membantah); apabila sepakat dengannya maka dia selamat, namun apabila tidak sepakat maka di bid’ahkan dan diboikotnya.

Tidak boleh seorang pun menisbatkan fenomena ta. bdi’ (pembid’ahan) dan hajr (pemboikotan) yang kacau seperti ini sebagai manhaj Ahlussunnah. Dan siapapun tidak diperbolehkan menggelari orang yang tidak menempuh jalan yang ngawur ini sebagai orang yang tidak bermanhaj salaf. Boikot (hajr) yang dilakukan dalam manhaj Ahlussunnah adalah boikot yang memberikan manfa’at bagi orang yang diboikot, seperti boikot seorang bapak pada anaknya, Syaikh kepada muridnya, dan boikot dari pihak yang memiliki kedudukan dan derajat yang lebih tinggi kepada orang-orang yang menjadi bawahannya. Boikot-boikot seperti itu akan memberikan manfaat bagi orang yang diboikot. Namun apabila boikot itu bersumber dari dari seorang penuntut ilmu kepada penuntut ilmu yang lain, lebih-lebih pada perkara yang tidak selayaknya seseorang diboikot, maka boikot seperti itu tidak manfaat sedikit pun bagi orang yang diboikot, tetapi malah akan menimbulkan permusuhan, saling membelakangi dan saling menghalangi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmu’ Fatawa (III/413-414) ketika beliau berbicara tentang Yazid bin Mu’awiyah. Beliau berkata, “Pendapat yang benar adalah pendapat yang dikemukakan oleh para imam, yaitu bahwa Yazid bin Mu’awiyah tidak perlu dicintai secara khusus, namun juga tidak boleh dilaknat. Meskipun dia seorang yang fasiq atau zalim, mudah-mudahan Allah mengampuni orang yang fasiq dan zalim, terlebih lagi dia telah melakukan kebaikan yang besar.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah pernah bersabda.

أَوَّلُ جَيْشٍ يَغْزُو الْقَسْطَنْطِيْنِيَةَ مَغْفُوْرَلَهُ

“Pasukan pertama yang memerangi tentara Konstatin akan diampuni dosa-dosanya.”

Dan pasukan pertama yang memerangi tentara Konstatin dipimpin oleh Yazid bin Mu’awiyah, dan Abu Ayyub Al-Anshari ikut dalam pasukan tersebut.

Oleh karena itu, selayaknya kita bersikap adil dalam permasalahan tersebut. Kita tidak boleh mencela Yazid bin Mu’awiyah dan memata-matai seseorang dalam bersikap terhadapnya, karena sikap seperti itu adalah bid’ah yang bertentangan dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Dalam kitab yang sama (III/415), beliau juga berkata, “Sikap seperti itu juga akan memecah belah umat Islam. Disamping itu, sikap itu tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau juga berkata dalam kitab yang sama (XX/164), “Tidak boleh seorang pun menjadikan orang lain sebagai figur yang harus diikuti dan sebagai standar dalam berteman atau bermusuhan selain Rasulullah. Tidak diperkenankan pula seseorang menjadikan sebuah perkataan pun sebagai barometer untuk berteman dan bermusuhan selain perkataan Allah dan Rasul-Nya serta ijma’ kaum muslimin. Cara-cara seperti ini adalah termasuk perbuatan ahli bid’ah. Para ahli bid’ah biasa menjadikan figur atau sebuah perkataan sebagai tolak ukur. Mereka berteman ataupun bermusuhan dengan dasar perkataan atau figure tersebut. Akhirnya hanya memecah-belah umat Islam.

Para pendidik tidak boleh mengkotak-kotakkan umat Islam, dan melakukan perbuatan yang hanya akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Bahkan yang seharusnya dilakukan adalah saling menolong atas dasar kebaikan dan takwa, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala.

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [Al-Maidah: 2]

Al-Hafizh Ibnu Rajab ketika menjelaskan hadist, Dia berkata,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَم الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَيَعْنِيْهِ

“Termasuk tanda bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tak berguna baginya.”

Dalam kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al ‘Hikam (I/288), beliau berkata, “Hadist ini merupakan landasan penting dalam masalah adab. Imam Abu Amru bin Ash Shalah menceritakan bahwa Abu Muhammad bin abu Zaid, salah seorang imam Madzhab Malik pada zamannya, pernah berkata : “Adanya berbagai macam adab kebaikan bercabang dari empat hadist, yaitu hadist Rasulullah:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman dengan Allah Ta’ala dan hari akhirat hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau (kalau tidak bisa) lebih baik diam.”

Lalu hadits :

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَم الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَيَعْنِيْهِ

“Salah satu ciri baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.”

Lalu hadist Rasulullah yang mengandung wasiatnya yang singkat :

لاَتَغْضَبْ

“Jangan marah,”

Kemudian yang terakhir hadist :

الْمُوْ مِنُ يُحِبُّ لأَِخِيْهِ مَايُحِبُّ

“Seorang mukmin mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”

Saya Berkata : Betapa perlunya para penuntut ilmu dengan adab-adab diatas, karena adab-adab tersebut jelas akan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Para penuntut ilmu juga perlu menjauhi sikap dan kata-kata yang kasar yang hanya akan membuahkan permusuhan, perpecahan, saling membenci dan mencerai-beraikan persatuan.

Menjadi kewajiban bagi setiap penuntut ilmu untuk menasehati dirinya sendiri agar berhenti mengikuti tulisan-tulisan di internet yang memuat komentar kedua belah pihak dalam masalah ini. Hendaknya mereka memanfaatkan dan memperhatikan website yang lebih bermanfaat seperti website milik Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang berisi telaah pembahasan-pembahasan ilmiah keagamaan dan fatwa-fatwa beliau yang sampai sekarang telah mencapai dua puluh satu jilid. Website lain yang lebih bermanfaat untuk mereka lihat adalah website Fatwa Lajnah Daimah yang sampai kini telah mencapai dua puluh jilid, begitu pula website Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang berisi telaah kitab-kitab dan fatwa-fatwanya yang banyak dan luas

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Penulis Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr, Edisi Indonesia Rifqon Ahlassunnah bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penerbit : Titian Hidayah Ilahi Bandung, Cetakan Pertama Januari 2004].

http://almanhaj.or.id/content/719/slash/0/fenomena-tahdzir-cela-mencela-sesama-ahlus-sunnah-dan-solusinya/

___________

TAHDZIR ULAMA KIBAR (SENIOR) TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR DAN MENTABDI

TAHDZIR ULAMA KIBAR (SENIOR) TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR DAN MENTABDI

1. Tahdzir Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz

Al-Allamah, al-Mufti al-’alim, Samahatus Syaikh Abdil Aziz bin Abdullah bin Bazz – rahimahullahu- berkata, sebagaimana termuat dalam harian al-Jazirah, ar-Riyadh, asy-Syirqul Awsath, Sabtu 22/6/1412 H, sebagai berikut :

“Telah merebak di zaman ini tentang banyaknya orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu (tholibul ‘ilm) dan terhadap dakwah kepada kebajikan (da’i) yang mencela kehormatan kebanyakan saudara-saudara mereka para du’at yang masyhur dan memperbincangkan kehormatan (menjelekkan, pent.) para thullabul ‘ilm (penuntut ilmu), para du’at dan khatib (penceramah). Mereka melakukannya secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) di dalam majelis-majlis mereka, dan bisa jadi ada yang merekamnya di kaset-kaset kemudian disebarkan kepada manusia. Terkadang pula mereka melakukannya secara terang-terangan di dalam muhadharah ‘am (ceramah umum) di masjid-masjid. Cara ini menyelisihi dengan apa-apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya, dengan beberapa alasan :

Pertama

Hal ini merusak hak-hak kaum muslimin, dan khususnya para penuntut ilmu dan da’i yang mengerahkan segenap usahanya di dalam mengarahkan manusia, menunjuki mereka dan membenahi aqidah dan manhaj mereka. Mereka bersungguh-sungguh di dalam mengatur/mengelola durus (pelajaran-pelajaran) dan muhadharaat (pengajian-pengajian) serta penulisan buku-buku yang bermanfaat.

Kedua

Hal ini memecah belah persatuan kaum muslimin dan memporak porandakan barisan mereka, dimana ummat ini lebih membutuhkan kepada persatuan dan menjauhi dari berkelompok-kelompok dan berpecah belah serta menjauhi dari banyaknya qiila wa qoola (perkataan-perkataan yang tidak jelas, pent.) di tengah-tengah ummat. Khususnya kepada du’at yang dicela, padahal mereka adalah termasuk dari Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang dikenal akan sikap mereka dalam memerangi bid’ah dan khurofat, memerangi orang-orang yang menyeru kepada bid’ah dan khurafat, dengan cara menyingkapkan kesalahan-kesalahan dan kekurangan mereka (para penyeru bid’ah dan khurafat). Kami tidak melihat adanya mashlahat (kebaikan) di dalam perilaku semacam ini (yaitu mencela para du’at), melainkan akan memberikan maslahat bagi musuh-musuh Islam dari kaum kuffar, munafik, dan ahli bid’ah serta kesesatan.

Ketiga

Sesungguhnya perbuatan ini (yaitu mencela para du’at), akan membantu dan menolong orang-orang yang menyimpang dari kalangan kaum atheis, sekuler dan lainnya. Dimana mereka ini tersohor akan permusuhannya terhadap para du’at islam dan terkenal akan pengadaan kedustaan terhadap mereka dengan menghasut melalui buku-buku maupun kaset-kaset rekaman. Hal ini (mencela para du’at) bukanlah hak dalam persaudaraan dalam Islam bagi orang-orang yang dengki itu dengan membantu musuh-musuh mereka terhadap saudara-saudara mereka thullabul ‘ilmi dan para du’at.

Keempat

Hal ini akan menyebabkan rusaknya hati umat ini secara umum dan mereka sendiri secara khusus, dengan menyebarkan dan mengedarkan kedustaan serta merebakkan kebathilan. Hal ini merupakan sebab berkembangnya ghibah, namimah (mengadu domba) dan pembuka pintu-pintu kejahatan bagi orang-orang yang jiwanya lemah, yang mana mereka ini akan menyebarkan syubuhat dan meluaskan fitnah serta mendorong mereka menghancurkan kaum mu’minin.

Kelima

Sesungguhnya kebanyakan perkataan-perkataan tersebut tidaklah berdasar. Sesungguhnya perkataan-perkataan tersebut hanyalah bersumber dari dugaan (imajinasi) yang Syaithan menghiasinya dan memperdayainya. Allah Ta’ala berfirman.

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan dari purbasangka, karena sesungguhnya sebagaian purbasangka itu adalah dosa.” [Al-Hujurat : 11-12].

Selayaknyalah bagi seorang muslim membawa ucapan saudaranya seislam pada sebaik-baik tempat (kepada makna yang paling baik). Sebagian Salaf berkata, “Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap perkataan yang dilontarkan saudaramu sedangkan engkau dapat membawa perkataan tersebut pada makna yang baik.”

Keenam

Apa yang didapatkan dari ijtihad sebagian ulama dan penuntut ilmu dari perkara-perkara yang memang memungkinkan di dalamnya berijtihad, maka orang tersebut tidak boleh disalahkan apalagi dicela, jika ia memang ahli ijtihad. Jika sekiranya ada orang lain yang menyelisihinya, selayaknyalah ia berdiskusi dengannya dengan cara yang baik, dengan mengharapkan memperoleh kebenaran dan dengan menolak waswas syaithan yang hendak memecah belah kaum mu’minin. Jika hal ini tidak memungkinkan dan ia beranggapan harus menerangkan penyelewengannya, maka hendaklah dengan ungkapan-ungkapan yang baik dan ucapan-ucapan yang lembut tidak kasar tanpa celaan ataupun ucapan yang sia-sia yang dapat menyebabkan seseorang menolak kebenaran atau bahkan menjauhi kebenaran, juga tanpa menyebutkan perorangan atau menuduh niat atau menambah ucapan-ucapan yang tidak dimaksudkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang perkara ini, ‘mengapa ada kaum yang berkata demikan dan demikian?? [1]‘”

(selesai)

2. Tahdzir Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani

erkata Syaikh kami yang mulia, al-Muhaddits al-Ashr al-Mujaddid al-Faqih Muhammad Nashirudin al-Albani Rahimahullah di dalam kaset Silsilah al-Huda wan Nur ash-Shouthiyah no 784 side A, sebagai berikut :

“Syuf (perhatikan) wahai saudaraku ! Aku menasehatkanmu dan para pemuda lainnya yang berada di jalan munharif (menyeleweng) sebagaimana tampak pada kami, wallahu a’lam, untuk tidak membuang-buang waktumu untuk mencela satu dengan lainnya dan sibuk dengan mengatakan fulan begini dan fulan berkata begitu. Dikarenakan, pertama, hal ini tidaklah termasuk ilmu sama sekali, dan yang kedua, uslub (cara) ini akan merasuk ke dada dan menyebabkan kedengkian serta kebencian di dalam hati.

Wajib atasmu menuntut ilmu !! Karena ilmulah yang akan menyingkapkan apakah perkataan ini yang mencela Zaid atau fulan dari manusia dikarenakan dirinya memiliki banyak kesalahan, apakah berhak bagi kita untuk menyebutkan shohibul bid’ah atau mubtadi’ ataukah tidak?? Apa yang harus kita lakukan dengan mendalami perkara ini?? Aku tidak menasehatkanmu untuk mendalami seluruh perkara ini dengan benar-benar, karena hakikatnya kita sekalian sedang mengeluhkan perpecahan ini yang terjadi di tengah-tengah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) pada dakwah Al-Kitab dan As-Sunnah, atau sebagaimana kita menyebutnya, Dakwah Salafiyah.!!!

Perpecahan ini, wallahu a’lam, penyebab utamanya adalah dorongan jiwa yang memerintahkan kepada keburukan (an-Nafsul ammarah bis suu`) dan bukanlah perselisihan pada sebagian pemikiran. Inilah nasehatku. karena telah sering aku ditanya, ‘apa pendapatmu tentang fulan?’, dan aku langsung faham bahwa ia (penanya) orang yang memihak atau memusuhi. dan terkadang orang yang ditanyakan adalah diantara saudara-saudara kita terdahulu yang dikatakan dia menyimpang, maka kami bantah penanya tersebut, apa yang engkau inginkan terhadap fulan dan fulan??

Berlaku luruslah sebagaimana engkau diperintahkan! Tuntutlah ilmu! Dengan ilmu engkau akan dapat memilah-milah mana yang thalih dan mana yang shalih, mana yang bathil dan mana yang haq!!! Kemudian janganlah engkau ini mendengki terhadap saudara seislam dikarenakan ia jatuh kepada beberapa kesalahan. Kami tidak mengatakan salah, namun kami katakan ia menyimpang dalam satu, dua atau tiga perkara, dan perkara lainnya ia tidak menyimpang.

Kita dapati para Imam Ahli Hadits yang menerima haditsnya (orang yang menyimpang) dan disebutkan di dalam riwayatnya ia khariji atau murji`i atau lainnya. Ini semua adalah aib dan kesesatan, namun diperoleh pada timbangan tersebut yang mereka berpegang teguh padanya. Kita tidak menimbang beratnya keburukannya dari kebaikan-kebaikannya atau dua atau tiga keburukannya terhadap banyaknya kebaikannya, dan yang terbesar adalah syahadat Laa ilaaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah.”

Syaikh juga berkata tentang definisi siapakah mubtadi’ itu di dalam kaset Silsilah Huda wa Nur ash-Shouthiyah no 785 side B, sebagai berikut :

“Atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bermanfaat untuk menunjukkan contoh dari terjatuhnya seorang ‘alim kepada bid’ah tidaklah serta merta menjadikannya mubtadi’ dan jatuhnya seseorang kepada perbuatan haram, dengan pernyataan memperbolehkan apa-apa yang diharamkan secara ijtihad, tidak serta merta menjadikannya sebagai pelaku keharaman.

Saya katakan, atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwasanya ia dulu berdiri menasehati manusia pada hari Jum’at sebelum sholat, berfaidah untuk menunjukkan contoh yang shahih, bahwa bid’ah yang terkadang terjatuh kepada seorang ‘alim, tidaklah dengan demikian ia menjadi seorang mubtadi’.

Sebelum masuk ke jawaban yang lengkap, aku katakan, al-Mubtadi’ adalah berawal dari kebiasaannya mengada-adakan bid’ah di dalam agama, dan tidaklah orang yang mengada-adakan bid’ah, walaupun ia mengamalkannya bukan karena ijtihadnya, namun dari hawa nafsunya, tidak serta merta dikatakan dia mubtadi’!!

contoh terjelas yang paling dekat dengan perkara ini adalah, seorang hakim yang zh’alim yang terkadang berlaku adil pada sebagian hukum-hukumnya, tidaklah bisa disebut hakim adil, sebagaimana pula seorang hakim yang adil yang terkadang melakukan kezh’aliman di sebagian hukum-hukumnya, tidaklah dinamakan dirinya hakim zh’alim.

Hal ini berkaitan erat dengan kaidah fiqh islami yang menyatakan bahwasanya seorang manusia dilihat dari banyaknya kebaikan atau keburukannya. Jika kita telah mengetahui hakikat ini, maka kita dapat mengetahui siapakah mubtadi’ itu. maka, dengan demikian disyaratkan bagi mubtadi’ dua hal, yaitu pertama, dia bukanlah seorang mujtahid namun hanyalah pengikut hawa nafsu dan kedua, dia menjadikan bid’ahnya sebagai kebiasaan dan agamanya.”

(selesai)

3. Tahdzir Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

yaikh al-Imam Faqihuz Zaman, al-Allamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin Rahimahullahu berkata saat Liqo`ul Babil Maftuh (Pertemuan terbuka) no 1322, sebagai berikut :

“Salafiyah adalah ittiba’ terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyah. Adapun menjadikan salafiyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyah !!!

Kaum salaf seluruhnya menyeru kepada Islam dan bersatu di atas Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka tidak menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya karena perkara ta’wil/penafsiran yang berbeda, Allahumma, kecuali dalam perkara aqidah, dikarenakan mereka berpandangan bahwa siapa-siapa yang menyelisihinya dalam perkara aqidah, maka telah sesat.

Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan manhajnya dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan hal ini sebagai manhaj hizbiyah sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam.

Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Dikatakan, ‘lihatlah kepada madzhab as-Salaf ash-Shalih, apa yang mereka perbuat di dalam jalan mereka dan kelapangan dada mereka pada perkara khilaf yang memang diperbolehkan ijtihad di dalamnya, sampai pada taraf mereka berselisih di dalam perkara aqidah dan ilmu.

Engkau dapati mereka, misalnya, mengingkari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Rabbnya dan sebagian lagi menetapkannya, ada lagi yang berpendapat yang ditimbang pada hari kiamat nanti adalah amal dan sebagiannya berpendapat lembaran-lembaran amal-lah yang ditimbang.

Engkau dapati pula mereka berselisih di dalam masalah fiqhiyah, baik dalam masalah nikah, faraidh, iddah, jual beli dan lain-lain. Walaupun demikian, mereka tidak saling menvonis sesatkan satu dengan lainnya.

Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membeda-bedakan dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

‘Permisalan kaum mu’minin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau ikut sakit.’ [Hadits Riwayat Muslim]

Maka inilah salafiyah yang hakiki !!!”

4. Tahdzir Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad

yaikh al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullahu ditanya saat pelajaran (durus) Sunan Abu Dawud, malam hari, 26 Shafar 1423 H., sebagai berikut :

Pertanyaan :

Jika seandainya ada seorang syaikh berbicara mengenai seseorang dan menganggapnya mubtadi’, apakah harus seorang pelajar (tholib) mengambil tabdi’ ini? Ataukah harus mengetahui sebab-sebab tabdi’ terlebih dahulu, dikarenakan terkadang tabdi’ ini dimutlakkan atas seseorang walaupun ia multazim dengan sunnah?

Jawaban :

Tidak setiap orang diterima perkataannya dalam perkara ini. Jika datang perkataan dari orang yang semisal Syaikh Ibnu Bazz atau Syaikh Ibnu Utsaimin, iya, mungkin untuk mempercayai ucapannya (mengambilnya, pent.). Adapun dari orang-orang yang ‘merangkak dan merayap’ (gemar menyebarkan desas-desus dan sembrono, pent.), maka tidak diambil perkatannya.

Pertanyaan :

Masalah lain, tentang menerima khobar (berita) tsiqoh (orang yang terpercaya), apakah diterima perkataannya secara mutlak tanpa tatsabut? Misalnya dikatakan, fulan tersebut mencela dan memaki shahabat, sebagai contoh, apakah wajib bagiku menerima perkataan ini (langsung) dan menghukuminya (sebagai pencela sahabat, pent.) ataukah aku harus tatsabut (cek dan ricek)?

Jawaban :

(Anda) harus tatsabut !!!

Pertanyaan :

Walaupun yang berkata demikian adalah salah seorang masyaikh ?

Jawaban :

Harus tatsabut !!! Orang yang berkata jika ia menisbatkan kepada kitabnya dan kitabnya eksis (maujud), sehingga memungkinkan ummat untuk meruju’ kepada kitab ini.

Adapun perkataan belaka yang kosong dari pokok (asas) yang disebutkan tentangnya terutama jika orang-orang tersebut masih hidup. Adapun jika ia termasuk dari para pendahulu kita dan dia memang dikenal dengan kebid’ahannya atau termasuk penghulu bid’ah, maka hal ini semua orang telah mengetahuinya, yaitu seperti Jahm bin Shofwan, dan demikianlah tiap-tiap orang yang berkata ia mubtadi’, maka sesungguhnya perkataannya benar, yaitu mengatakannya mubtadi’. Adapun terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan sedangkan dia memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam berkhidmat terhadap agama, kemudian dia tergelincir, maka seharusnya ummat ini menghukumi terhadapnya pada kesalahannya saja.

Pertanyaan :

Jika didapatkan pada seorang ‘alim perkataan yang mujmal (global) di dalam suatu perkara, dan terkadang perkataan mujmal tersebut secara dhohirnya menunjukkan kepada suatu perkara yang salah, dan didapatkan lagi padanya perkataan yang lain yang mufashshol (terperinci) pada perkara yang sama tentang manhaj salaf, apakah dibawa perkataan seorang ‘alim yang mujmal tersebut kepada perkara yang mufashshol?

Jawaban :

Iya, dibawa kepada mufashshol, selama perkara tersebut adalah sesuatu yang masih samar, dan perkara yang jelas dan teranglah yang dianggap.

(selesai)

5. Tahdzir Syaikh Al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan

Asy-Syaikh al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan -hafizhahullahu- berkata saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/69) sebagai berikut :

“Diantara kerusakan-kerusakan perpecahan yang demikian ini adalah mengakibatkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin, disebabkan disibukkannya mereka satu dengan lainnya dengan mentajrih (mencela) dengan gelar-gelar yang buruk. Tiap-tiap mereka menghendaki memenangkan diri mereka dari yang lainnya dan merekapun menyibukkan kaum muslimin dengan perihal mereka. Yang mana hal ini menjadi melebihi mempelajari ilmu yang bermanfaat. Sesungguhnya banyak dan banyak dari para penuntut ilmu yang bertanya sampai kepada kami bahwa semangat dan kesibukan mereka hanyalah memperbincangkan manusia dan kehormatan mereka, baik di majelis-majelis maupun perkumpulan mereka, sembari menyalahkan ini dan membenarkan itu, memuji ini dan menyatakan itu sesat… Tidaklah mereka ini disibukkan melainkan hanya memperbincangkan manusia..”

Syaikh al-Allamah ditanya saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/57) sebagai berikut :

Pertanyaan :

“Apa pendapat yang mulia tentang merebaknya celaan-celaan baik yang tertulis maupun yang didengar yang merebak di kalangan para ulama ?? Tidakkah Anda memandang bahwa duduknya mereka untuk diskusi adalah lebih mulia ?? Karena betapa banyak aturan-aturan islam yang rusak karena hal ini!!”

Jawaban :

“Para ulama yang mu’tabar (dikenal keilmuannya) tidak ada pada diri mereka sedikitpun dari apa yang disebutkan dalam pertanyaan. Mungkin hal ini terjadi diantara para penuntut ilmu dan pemuda yang bersemangat, kami memohon hidayah dan taufiq Allah untuk mereka. Kami menyeru mereka untuk meninggalkan perbuatan tercela ini dan supaya mereka saling bersaudara di atas kebajikan dan ketakwaan, serta mengembalikan kepada para ulama terhadap perkara-perkara yang mereka sulit menentukan kebenarannya, dan agar mereka -para ulama- menjelaskan kepada mereka mana yang benar, dan supaya mereka tidak memberikan pengaruh pada fikiran dengan syubuhat sehingga mereka berpaling dari manhaj yang benar. Namun, janganlah difahami dari hal ini, meninggalkan bantahan terhadap kesalahan dan penyimpangan yang terdapat di sebagian buku-buku termasuk bagian nasehat bagi ummat.”

Syaikh hafizhahullahu ditanya pula saat pengajian Aqidah dan Dakwah (III/332) sebagai berikut :

Pertanyaan :

Syaikh yang mulia, apakah nasehatmu bagi para pemuda yang meninggalkan menuntut ilmu syar’i dan berdakwah kepada Allah dengan menceburkan dirinya ke dalam masalah perselisihan diantara pada ulama tanpa ilmu dan bashirah ??

Jawaban :

“Aku nasehatkan kepada seluruh saudara-saudaraku dan khususnya para pemuda penuntut ilmu agar mereka menyibukkan diri dengan menuntut ilmu yang benar, baik di Masjid, sekolah, ma’had maupun di perkuliahan. Agar mereka sibuk dengan pelajaran-pelajaran mereka dan apa-apa yang bermashlahat bagi mereka. Dan supaya mereka meninggalkan menceburkan diri kepada perkara ini -perselisihan ulama-, dikarenakan tidak ada kebaikannya dan tidak bermanfaat masuk ke dalamnya… hanya membuang-buang waktu saja dan merisaukan fikiran…

Hal ini termasuk penghalang amal shalih, termasuk mencela kehormatan dan menghasut kaum muslimin. Wajib bagi kaum muslimin umumnya dan para penuntut ilmu khususnya, supaya meninggalkan perkara ini dan agar mereka mengupayakan perdamaian (ishlah) semampu yang mereka bisa. Allah Ta’ala berfirman,

‘Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah kedua golongan saudara kalian tersebut, bertakwala’h kepada Allah semoga engkau dirahmati.” (al-Hujurat : 10).

Terhadap orang-orang yang anda lihat melakukan kesalahan, maka wajib bagi anda menasehatinya dan menjelaskan kesalahnnya secara empat mata, dan memohon kepadanya agar ia mau ruju’ (kembali) kepada kebenaran. Inilah yang dibutuhkan nasehat.

Syaikh Hafizhahullahu berkata saat pengajian Zhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat takfir wa Dhawabithuha, sebagai berikut :

“Oleh karena itu, wajib bagi para pemuda Islam dan penuntut ilmu untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat dari sumbernya dan dari ahlinya yang dikenal akan keilmuannya. Kemudian setelah itu, mereka akan tahu bagaimana berbicara dan bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya, karena Ahlus Sunnah dulu maupun sekarang mampu menjaga lisannya dan mereka tidaklah berucap melainkan dengan ilmu..”

(selesai)

6. Tahdzir Fadhilatus Syaikh Nashir Abdul Karim al-Aql

Asy-Syaikh Nashir bin Abdul Karim al-Aql -hafizhahullahu- berkata saat pengajian Syarh Mujmal I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai berikut :

“Orang-orang beriman seluruhnya adalah wali Allah dan bagi seluruh mukmin diberikan wala’ (loyalitas) sebatas tingkat keimanannya, demikian pula sebaliknya (diberikan baro’ah (kebencian/berlepas diri) sebatas tingkat kemaksiatannya, pent.).

Orang-orang kafir, seluruhnya adalah wali Syaithan dan tidak ada wala’ sedikitpun bagi orang kafir. Akan tetapi, mukmin yang bermaksiat, diberikan baro’ah kepadanya menurut kadar kemaksiatannya, demikian pula para pelaku bid’ah dari kaum muslimin, diberikan baro’ah menurut tingkat kebid’ahannya, dan bagi mereka wala’ sebatas keimanannya. Oleh karena itu, sesungguhnya orang kafir tidak terkumpul padanya wala’ dan baro’ sekaligus.

Seorang mukmin yang kholish (murni) yang berjalan di atas As-Sunnah, baginya wala’ dan kecintaan yang sempurna. Jika ditemukan padanya kemaksiatan atau kebid’ahan maka terkumpul padanya dua perkara: yaitu kita berwala’ terhadap kebaikan dan iman yang dimilikinya dan kita membenci terhadap kemaksiatan dan kebid’ahannya. Dengan demikian, mayoritas kaum mu’minin pelaku kemaksiatan dan kebid’ahan yang tidak sampai mengeluarkan dari agama… mayoritas mereka… bahkan seluruhnya dari para pelaku kemaksiatan dan bid’ah yang kecil, bagi mereka kecintaan dan wala’ sebatas keimanan dan amal shalih yang ada pada mereka serta baro’ dan kebencian sebatas kemaksiatan dan kebid’ahan mereka.

Kaidah ini jarang dipegang oleh kebanyakan orang-orang yang lemah ilmunya dan dangkal pemahaman agamanya serta bodoh dengan manhaj salaf, sampai-sampai sebagian orang yang mengaku sebagai salafiy juga jatuh kepada hal ini, yaitu mereka memusuhi bid’ah dengan permusuhan yang kamil (sempurna), walaupun terkadang bid’ahnya tidak sampai tingkatan mengeluarkan pelakunya dari agama, dan terkadang pula kebid’ahan tersebut hanya sebagian kecil saja tidak menyeluruh pada seseorang. Sebagaimana pula mereka memusuhi kemaksiatan dengan permusuhan sempurna, atau memusuhi suatu penyelewengan dan kesalahan dengan permusuhan yang sempurna.

Sekarang kita perhatikan dampak dari penerapan perilaku ini, yang marak terjadi di tengah-tengah Ahlus Sunnah, yang menimbulkan keprihatinan dan percekcokan di dalam permasalahan agama, perkara Ijtihadiyah dan seputar dakwah kepada Allah. Kita dapatkan mereka saling berselisih tentang hal ini dan menerapkan kepada musuh dan lawan mereka sesama Ahlus Sunnah, baro’ah yang sempurna, sampai mereka membenci mereka, memperbolehkan menjelekkan mereka, menyebarkan aib mereka, mereka berniat karena Allah mendakwahi lawan mereka namun mereka menyebarkan aib mereka dan mentahdzir mereka.

Hal ini menyelisihi ushul (pokok) syariat. Iya memang, jika mereka melakukan kesalahan diperingatkan kesalahan-kesalahannya, namun tetap dengan mengakui keutamaan dan kemampuan yang mereka miliki. Ini adalah perkara dharuri (yang wajib dilakukan) atau jika tidak, akan timbul fitnah di tengah-tengah kaum muslimin.

Demikian pula seorang yang menyimpang, wajib diberitahukan padanya, bahwa dirimu selaras dengan kebenaran dalam perkara yang memang benar dan dirimu menyelisihi kebenaran dalam perkara yang memang menyelisihi kebenaran. Dan janganlah mengobarkan kebencian di dada-dada kaum muslimin satu dengan lainnya sebagaimana cara yang dilakukan oleh orang-orang bodoh tadi. Bahkan saya katakan, (hal ini) tidak terlarang, di sini aku contohkan sedikit… termasuk tabiat dan adab islami jika anda berselisih dengan salah seorang saudara anda dan anda memandang ia melakukan kesalahan atau kebid’ahan yang cukup besar, anda memberikannya udzur setelah anda tidak mampu lagi memuaskan dirinya (dengan dalil), dan senantiasa berwala’ seraya mengatakan ‘aku mencintaimu karena Allah terhadap kebaikan dan kelurusan yang anda miliki’… (hal ini) tidak terlarang !!!

Saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah, hingga sampai-sampai jika ditemukan padanya kesalahan… (maka tidak apa-apa melakukan sebagaimana contoh di di atas, pent.)… yang dengan cara ini akan mendamaikan hati dan menghilangkan kebencian dan kedengkian yang dimiliki kaum mu’minin satu dengan lainnya. Sampai-sampai orang-orang bodoh tadi melupakan baro’ kepada orang kafir dan pelaku bid’ah yang berat, dimana mereka palingkan nash-nash tentang baro’ kepada saudara-saudara mereka. Aku takut mereka akan ditimpa -jika mereka tidak mau taubat dan kembali kepada kebenaran dan manhaj yang lurus- sebagaimana yang disifatkan nabi kepada salah satu kelompok ahli bid’ah, ‘yang mereka ini memerangi ahlul islam dan membiarkan ahlul awtsan (penyembah berhala)’ yang datang dari hadits shahih ketika mensifatkan sebagian kelompok ahli bid’ah.

Tentu saja, baro’ yang kamil (sempurna) merupakan jalan kepada peperangan. Seorang manusia yang baro’ kepada saudaranya muslim dengan baro’ yang sempurna berimplikasi terhadap penghalalan darahnya. Walaupun tidak terjadi saat ini saat ini, namun wajib bagi kita untuk berhati-hati dari sikap yang dapat mengeruhkan keadaan ini.

Kita perlu tahu bahwa Ahlus Sunnah terkadang berselisih diantara mereka, terkadang ditemukan pada sebagian Ahlus Sunnah kesalahan pada manhajnya, akan tetapi tanpa maksud/kesengajaan -dikarenakan ijtihad-, terkadang pula ditemukan pada mereka ketergelinciran yang besar, akan tetapi tanpa kesengajaan yang tidak menyebabkan mereka berpecah belah, dan terkadang pula didapatkan pada sebagian Ahlus Sunnah suatu kebid’ahan, namun tidak banyak dan tidak termasuk bid’ah yang kategori berat.

Namun, tetap wajib bagi kita menyalahkan terhadap kesalahan yang ada pada mereka, namun kita harus tetap menganggap mereka, mencintai dan berwala’ terhadap mereka dari perkara-perkara yang benar jika mereka termasuk Ahlus Sunnah.

Wallahu a’lam. Semoga Sholawat senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat-sahabatnya.”

Dipublikasikan oleh :

[1] Isyarat terhadap hadits yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika menyampaikan sesuatu tentang seseorang beliau tidak berkata, ‘mengapa fulan berkata demikian’, namun beliau berkata, ‘mengapa ada kaum yang berkata demikian dan demikian?’.’ Hadits Shahih diriwayatkan Abu Dawud dalam bab al-Idznu wal Isti’dzan (izin dan meminta izin), lihat Silsilah ash-Shahihah no 2064

_________

SALAH FAHAM TENTANG HIZBIYAH

SALAH FAHAM TENTANG HIZBIYAH

Sebagian orang tidak sadar jika mereka jatuh dalam jerat hizbiyah yang mereka tahdzir siang-malam. Kita harus pahami dengan baik pemahaman istilah “hizbi” agar kita jauh darinya dan tidak jatuh ke dalamnya tanpa sadar. Pepatah Arab brkata :

عرفت الشر لا للشر ولكن لتوقيه

Aku mengenal keburukan, bukan tuk keburukn, tp tuk menghindarinya”.

Sebagian ikhwan menyangka bahwa hizbiyah itu orang yang gabung dengan yayasan atau organisasi tertentu, seperti Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir.

Ini adalah pemahaman yang sempit. Hizbiyah lebih luas daripada itu semua. Hizbiyah trdapat pada diri orang tertentu, entah ia bergabung dengan organisasi fulan atau tidak.

• MAKNA HIZBIYAH YANG SEBENARNYA

Definisi hizbiyyah menurut Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, dari rekaman ceramah “Kasyfu as sitaar” :

“Hal ini menunjukkan kepada fanatisme terhadap gagasan tertentu yang menentang Al-Quran dan Sunnah, menampakkan kesetiaan dan permusuhan di atas gagasan itu, hal ini adalah hizbiyyah, walaupun dia tidak termasuk kedalam suatu organisasi. Tapi dia memiliki pemahaman menyimpang di dalam dirinya, dan mengumpulkan orang-orang dengan gagasan itu maka ini adalah termasuk berhizbi. (Definisi ini) tidak ada bedanya baik ia masuk di dalam sebuah organisasi ataupun tidak … ”

Menurut Syaikh Muqbil bin Hadi al-wadi’i, dalam kitabnya Tuhfatul Mujeeb : “Hal ini dikenal dengan loyalitas sempit. Siapapun yang bersama mereka akan dihormati, dan mengajak orang-orang untuk mengikuti dan untuk mengelilingi orang yang bersama mereka tersebut, sedangkan siapa saja yang tidak bersama mereka maka dianggap sebagai musuh. ”

Menurut Muhammad Hizaam : “Makna hizbiyyah adalah sebuah kelompok dari orang-orang yang berkumpul di atas ide yang bertentangan dengan bimbingan Nabi. Mereka bergaul dan menjauh dengan itu sehingga persahabatan dan permusuhan mereka menjadi terbatas, hanya sepanjang ide-ide dan sasaran yang sedang mereka tuju tersebut. Ini adalah kefanatikan yang sangat tercela”.

Sumber Artikel : https://www.facebook.com/thalibul.ilmi.31

• APAKAH ORGANISASI ISLAM ADALAH HIZBI ?

Membuat organisasi adalah perkara muamalah, dan muamalah itu hukum asalnya mubah. Dan tentu saja membuat organisasi untuk dakwah dan menolong Islam adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al Maidah: 2).

Para ulama mengatakan bahwa membuat organisasi atau yayasan atau perkumpulan dalam rangka kebaikan adalah hal yang dibolehkan, selama tidak dijadikan sarana tahazzub (fanatik kelompok), dan tidak dijadikan patokan al wala wal bara’ sehingga sesama anggota organisasi dianggap teman dan di luar organisasi dianggap lawan.

Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi mengatakan :
”Disyariatkannya organisasi, yayasan, atau perkumpulan sosial adalah perkara yang tidak diingkari oleh siapapun. Selama aktifitas organisasi tersebut dalam rangka menolong, membela dan mendukung al haq. Dengan syarat, anggotanya bebas dari sifat tahazzub (fanatik kelompok) yang tercela, dan dari finah harta, dan hal-hal yang memperburuk dakwah di setiap tempat. Adapun jika aktifitas organisasi ini hanya untuk pencitra’an, padahal di balik itu ada perkata’an-perkata’an menyimpang seperti mencela para ulama bahwa mereka murji’ah atau jahmiyah atau mengatakan bahwa mereka itu bodoh terhadap realita umat, atau organisasi tersebut menggiring umat kepada fitnah terhadap penguasa, lalu mulailah fitnah takfir dan berakhir dengan pembunuhan, penghalalan darah dan pengeboman, atau organisasi yang memerintahkan anggotanya untuk berbaiat sehingga memecah belah kaum muslimin, maka organisasi yang demikian ini semua bukanlah aktifitas dari organisasi yang baik. Dan tidak selayaknya para donatur menyalurkan dana-dana mereka pada organisasi-organisasi yang demikian” (Siraajul Wahhaj Bi Shahihil Minhaj, 99).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyatakan :
“organisasi jika memang sudah banyak tersebar di berbagai negeri Islam dan dibangun dalam rangka memberi bantuan dan dalam rangka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa antar sesama muslim, tanpa diselipi dengan hawa nafsu, maka ini sebuah kebaikan dan keberkahan. Dan manfa’atnya sangat besar. Adapun jika antar organisasi menyesatkan organisasi yang lain dan saling mencela aktifitas organisasi lain, maka ini bahayanya besar dan fatal akibatnya” (Majmu’ Fatawa Mutanawwi’ah 5/202-204, bisa dilihat di http://www.binbaz.org.sa/mat/46).

Dan tidak benar sebagian orang yang menuduh orang yang ikut dalam organisasi Islami telah terjerumus dalam hizbiyah dan bid’ah yang tercela.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan : “Organisasi apapun yang dibangun dengan asas Islam yang shahih, yang hukum-hukumnya diambil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah sesuai dengan apa yang dipahami salafus shalih, maka organisasi apapun yang dibangun dengan asas ini tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Dan tidak ada alasan untuk menuduhnya dengan hizbiyyah. Karena ini semua termasuk dalam firman Allah Ta’ala : “Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa“. Dan saling tolong-menolong itu adalah tujuan yang syar’i. Dan organisasi ini telah berbeda-beda sarananya dari zaman ke zaman dan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain. Oleh karena itu menuduh organisasi yang memiliki asas demikian dengan tuduhan hizbiyyah atau bid’ah adalah hal yang tidak ada alasan untuk mengatakannya. Karena ini menyelisihi apa yang dinyatakan oleh para ulama dalam membedakan antara bid’ah yang disifati sesat dengan sunnah hasanah” (Silsilah Huda Wan Nuur, no.590, transkrip dari http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=8964).

Oleh karena itu, kita pun melihat para ulama dari zaman ke zaman mereka juga membuat organisasi diantaranya Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta, Hai’ah Kibaril Ulama, Majma’ Fiqhil Islami, dll.

• FATWA SYAIKH BIN BAZ

Pendapat Syaikh bin Baz Ketika ditanya tentang jama’ah-jama’ah Islam yang berada di dalam ummat Islam, Syaikh bin Baz menjelaskan : “Adapun jama’ah-jama’ah jika terdapat banyak jenisnya di negara-negara kaum muslimin yang kesemuanya bertujuan kebaikan dan membantu serta saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwa’an diantara kaum muslimin serta tidak mengikuti hawa nafsu, MAKA ITU SEMUA ADALAH BAIK DAN BAROKAH SERTA MANFA’ATNYA SANGAT BESAR, … “

Syaikh bin Baz berpendapat bahwa Hizbiyyah tidak sama dengan kelompok. Sebab kalau
“Hizbiyyah sama dengan kelompok”, tidak mungkin beliau mengatakan bahwa itu semua adalah baik, barokah, dan bermanfa’at.

Selanjutnya, beliau menjelaskan :

“… Adapun jika JAMA’AH TERSEBUT SALING MENFATWAKAN SESAT TERHADAP JAMA’AH YANG LAINNYA DAN MENJELEK-JELEKKAN PERBUATAN JAMA’AH LAINNYA MAKA JAMA’AH TERSEBUT ADALAH JAMA’AH YANG MEMILIKI KEBURUKAN SERTA BAHAYA YANG SANGAT BESAR.”

Inilah penjelasan dari Syaikh tentang ”Jama’ah yang hizbiyyah”.

Makna Hizbiyyah yang sebenarnya adalah “kelompok yang fanatik pada kelompoknya sendiri, dan dengan keyakinan itu mereka aktif membid’ah-bid’ahkan kelompok lain dan menjelek-jelekkan kelompok lain”. Inilah kelompok yang “hizbiyyah” dalam makna sebenarnya. Inilah kelompok yang mendapat gelar “dharaarun ‘azhim” (memiliki keburukan yang luar biasa besar) oleh Syaikh bin Baz sendiri pada penjelasan beliau di atas.

Dan kelompok ini pula-lah yang telah menyalah artikan makna hizbiyyah, dari makna sebenarnya menjadi makna “hizbiyyah = kelompok”.

Penjelasan Syaikh bin Baz di atas bisa dilihat di : http://www.binbaz.org.sa/mat/46

• FATWA AL-LAJNAH AD-DAIMAH

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah No. 6270 Mengenai Jama’ah-jama’ah Islam

Pertanya’an : Ada sekian jama’ah pada sa’at ini, seperti Jama’ah Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Jama’ah Ansharus Sunnah Al-Muhammadiyyah, Al-Jum’iyyah Asy-Syar’iyyah, Salafi, dan mereka yang disebut At-Takfir wal Hijrah. Semua jama’ah ini dan jama’ah lainnya terdapat di Mesir.

Yang saya tanyakan, “Bagaimana sikap seorang muslim terhadap jama’ah-jama’ah tersebut ? Pantaskah jika kita terapkan kepada mereka hadits Hudzaifah radhiallahu’anhu,
‘Jauhilah semua kelompok itu meskipun engkau harus menggigit akar pepohonan hingga meninggal dunia sedangkan dirimu tetap dalam keada’an seperti itu’. (HR. Imam Muslim dlm Shahihnya) ?”

Jawaban : Semua kelompok tersebut memiliki kebenaran dan kebatilan serta salah dan benar. Sebagian mereka lebih dekat kepada kebenaran, lebih banyak kebaikannya, dan lebih banyak memberikan manfa’at kepada umat daripada kelompok lainnya. Hendaknya engkau saling membantu bersama setiap kelompok dalam kebenaran yang ada pada mereka. Nasihatilah mereka dalam perkara yang engkau lihat salah. Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu menuju sesuatu yang tidak meragukanmu. Billahit taufiq. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasalam, keluarganya, dan para sahabatnya. http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=77
Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah tentang Semua Jama’ah Islam termasuk dalam Firqah Najiyyah

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah : Semua Jama’ah Islam Termasuk Dalam Al-Firqah An-Najiyyah, Kecuali Jika Ada di Antara Mereka Melakukan Kekufuran yang Mengeluarkannya dari Dasar Keimanan Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 7122.

Pertanyaan : Pada zaman ini terdapat banyak jama’ah. Semua mengklaim berafiliasi di bawah al-firqahan-najiyyah. Kami tidak mengetahui manakah jama’ah yang berada di atas al-haq. manakah jama’ah yang paling utama dan paling baik ? Jawaban : Semua jama:ah Islam termasuk dalam al-firqatun najiyah, kecuali jika ada di antara mereka melakukan kekufuran yang mengeluarkannya dari dasar keimanan. Akan tetapi, perbeda’an kekuatan dan kelemahan derajat mereka tergantung pada kedekatan mereka dengan kebenaran dan penerapannya serta pada kesalahan mereka dalam memahami dalil dan penerapannya. Jama’ah yang paling banyak mendapat hidayah adalah jama’ah yang paling bisa memahami dalil dan mengamalkannya. Oleh karena itu, kenalilah arah pandangan mereka. Bergabunglah bersama mereka yang paling banyak mengikuti kebenaran. Tetapi, janganlah berbuat semena-mena terhadap saudara sesama muslim yang karenanya Anda menolak kebenaran yang mereka lakukan. Ikutilah kebenaran di mana pun ia berada, sekalipun berasal dari orang yang bertentangan denganmu dalam satu dua masalah. Kebenaran adalah penuntun orang mukmin. Kekuatan dalil dari Kitabullah dan Sunnah merupakan pemisah antar kebenaran dan kebatilan.

Billahit taufiq. Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’

Dari berbagai sumber :

http://muslim.or.id/manhaj/hukum-organisasi-dan-taat-pada-pimpinan-organisasi.html

http://dpdhasmibogor-depok.blogspot.com/2011/05/harakah-bidah.html?m=1

http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=78

http://ihwansalafy.wordpress.com/2007/10/08/fatwa-al-lajnah-ad-daimah-tentang-semua-jamaah-islam-termasuk-dalam-firqah-najiyyah/

http://anshoruttauhid.blogspot.com/2009/02/apakah-bertandzim-berharakah-bukan.html?

________

NASEHAT SYAIKH ‘ABDUL MUHSIN AL-‘ABAD KEPADA SYAIKH RABI’

NASEHAT SYAIKH ‘ABDUL MUHSIN AL-‘ABAD KEPADA SYAIKH RABI’ BIN HADI

Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu berkata :

الشيخ ربيع من المشتغلين بالعلم في هذا الزمان وله جهود جيدة وجهود عظيمة في الاشتغال بالسنَّة ، وكذلك التأليف له تآليف جيده ومفيدة وعظيمة .

Syaikh Rabi’ adalah termasuk diantara orang yang sibuk dengan ilmu di zaman ini. Beliau memiliki upaya yang baik dan upaya yang besar di dalam sibuk membahas sunnah Nabi. Demikian pula dengan karya-karya tulis beliau, adalah karya-karya tulis yang bagus, bermanfa’at dan luar biasa.

Namun sayangnya, akhir-akhir ini beliau lebih banyak sibuk dengan perkara yang beliau tidak seharusnya menyibukkan diri dengannya. Akanlah lebih bermanfa’at apabila beliau mau kembali menyibukkan diri dengan kesibukan di awal waktu beliau dan menekuni upaya yang lebih bermanfa’at di dalam menulis. Baru-baru ini, beberapa perkara yang berkaitan dengan beliau telah terjadi dan kami tidak menyetujui akan perkara tersebut.

نسأل الله عز وجل أن يوفقنا وإياه لكل خير وأن يوفق الجميع لما تحمد عاقبته

Kami memohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar memberikan taufiq-Nya kepada kita dan kepada beliau di dalam semua hal yang baik serta semoga Alloh memberikan taifiq-Nya kepada semuanya terhadap semua hal yang dapat menghantarkan kepada akhir yang baik.

أنا لا أطعن فيه ، ولا أحذر منه وأقول أنه من العلماء المتمكنين

Kami tidak mencela beliau dan tidak pula mentahdzirnya. Kami katakan, beliau termasuk ulama yang mumpuni.

Dan sekiranya beliau mau kembali menyibukkan diri dengan ilmu dan tetap serius menekuninya, niscaya beliau akan memberikan manfa’at yang banyak. Sebelum masa ini, karya beliau terdahulu lebih banyak dibandingkan karya beliau yang sekarang.

أنا أعتبر الشيخ ربيع من العلماء الذين يُطمئن إليهم وفائدتهم كـبيرة

Kami menganggap bahwa syaikh Rabi’ adalah termasuk ulama yang kami merasa tenang (mantap) dengannya dan kemanfa’atan pada diri beliau sangatlah besar.

Namun, ucapan seseorang bisa diterima dan bisa pula ditolak, tak ada seorangpun yang ma’shum (kecuali Nabi). Kami pribadi tidak menyetujui beliau di dalam beberapa masalah yang terjadi, terutama dalam masalah yang baru-baru ini terjadi berkaitan dengan fitnah yang telah menyebar dan semakin meluas. Para penuntut ilmu mulai saling meng hajr satu dengan lainnya, saling bertikai dan bercekcok antara satu dengan lainnya, sebagai hasil/dampak dari apa yang tengah berlangsung antara beliau (Syaikh Rabi’) dengan selain beliau. Sampai pada puncaknya, manusia terpecah menjadi dua kubu, dan fitnah semakin menjadi luas dan mendatangkan malapetaka.

Adalah wajib atas beliau dan selain beliau untuk meninggalkan hal yang dapat melanjutkan terjadinya fitnah ini, dan juga harus (bagi mereka) meninggalkan ziyadah (tambahan) dan istimrar (terus menerus) di dalam hal ini. Mereka semua haruslah menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, karena tanpa hal inilah (menyibukkan dengan ilmu) yang telah menyebabkan terjadinya perpecahan dan pengkotak-kotakkan ini.

Kami memohon kepada Alloh Azza wa Jalla untuk memberikan taufiq-Nya kepada kita semua.

Syaikh ’Abdul Muhsin al-’Abbad memberikan nasehat kasih sayang kepada saudaranya, Syaikh Rabi’ bin Hadi, untuk menunjukkan bagaimana seharusnya ahlus sunnah, terlebih apabila berbeda pendapat.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sangat menyedihkan dengan ulah sebagian oknum yang mengatas namakan diri mereka sebagai salafiy, namun amal dan ilmunya menunjukkan jauhnya ia dengan dakwa’annya tersebut.

Mereka terkenal dengan sikap mudah mencela, menghujat, menvonis bid’ah, menggelar-gelari manusia dengan gelar buruk, merusak kehormatan para du’at ahlus sunnah, mencari-cari kesalahan mereka, mengumpulkan aib-aib mereka, dan menyebarkannya.

Sehingga, fitnah ini dapat dikonsumsi oleh khayalak umum dan dijadikan sebagai bumerang untuk menyerang dakwah salafiyyah mubarokah ini. Mereka inilah yang merusak dakwah dari dalam dan merusak nama baik para ulama ahlus sunnah.

Menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat lebih utama daripada memperbincangkan tentang keadaan Fulan dan Fulan, terlebih lagi apabila sama-sama ahlus sunnah. Hal ini yang ditekankan oleh Syaikh ’Abdul Muhsin, baik kepada para ulama semisal Syaikh Rabi’ maupun selainnya.

Semoga Alloh mempersatukan umat islam di atas sunnah dan menjadikan mereka saling berkasih sayang di atas sunnah.

https://docs.google.com/document/d/12pV3OpeJ5IDKwzzzuACYLRhgbR9Sz1ANt1dWhS3zFCo/mobilebasic?viewopt=127

____

MANHAJ SYAIKH ROBI’ TIDAK SAMA DENGAN MANHAJ ULAMA KIBAR

Memaksakan samanya manhaj Syaikh Robi’ dengan manhaj para ulama kibar adalah kekeliruan yang sangat nyata. Tentang kerasnya (tasyaddud) Syaikh Robi’ dalam mentahdzir dan mentabdi’ sesama Ahlus Sunnah.

Apakah para ulama kibar seperti itu ??

Sungguh manhaj Syaikh Robi’ menyelisihi manhaj ulama kibar

Adakah satu kitab saja tulisan Syaikh Bin Baaz, atau Syaikh Utsaimin, atau Syaikh Al-Albani yang modelnya seperti Syaikh Robi yang sangat mudah mentahdzir dan mentabdi’ ?

_________

MANHAJNYA PARA WANITA

MANHAJNYA PARA WANITA

Syaikh al-‘Utsaimin telah menegaskan bahwasanya orang yang manhajnya seperti ini, yaitu hanya mengingat satu atau dua kesalahan dan melupakan banyak kebaikan adalah manhajnya para wanita. Beliau rahimahullah berkata : “Ibnu Rajab berkata dalam muqaddimah kitab Qawaa’id-nya, ‘Orang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan seseorang yang sedikit karena kebenarannya yang banyak.’ Tidaklah seorang pun mengambil kesalahan dan lupa dengan kebaikan melainkan ia telah menyerupai para wanita. Sebab jika engkau berbuat baik kepada seorang wanita sepanjang zaman lalu ia melihat satu keburukan padamu niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak melihat kebaikan pada dirimu.’ Tidak seorang lelaki pun ingin kedudukannya seperti ini, yaitu seperti wanita, yang mengambil satu kesalahan kemudian melupakan kebaikan yang banyak.” (Liqaa’ al-Baab al-Maftuuh, no (120), side A)

Berikut ini potongan-potongan dari perkataan Syaikh Al-‘Utsaimin tentang perselisihan yang terjadi diantara ahlus sunnah

“Apakah engkau Quthbi ataukah Jamiah? Ini semua tidak perlu….

Jika para pemuda dididik di atas manhaj seperti ini maka keesokan hari akan menimbulkan keburukan yang sangat besar….

Apakah termasuk keadilan jika seseorang mencela orang lain dan sama sekali tidak menyebutkan kebaiknnya?, manhaj seperti ini jelas salah”.

_____