Tag Archives: bid’ah

SALAH FAHAM TENTANG HIZBIYAH

SALAH FAHAM TENTANG HIZBIYAH

Sebagian orang tidak sadar jika mereka jatuh dalam jerat hizbiyah yang mereka tahdzir siang-malam. Kita harus pahami dengan baik pemahaman istilah “hizbi” agar kita jauh darinya dan tidak jatuh ke dalamnya tanpa sadar. Pepatah Arab brkata :

عرفت الشر لا للشر ولكن لتوقيه

Aku mengenal keburukan, bukan tuk keburukn, tp tuk menghindarinya”.

Sebagian ikhwan menyangka bahwa hizbiyah itu orang yang gabung dengan yayasan atau organisasi tertentu, seperti Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir.

Ini adalah pemahaman yang sempit. Hizbiyah lebih luas daripada itu semua. Hizbiyah trdapat pada diri orang tertentu, entah ia bergabung dengan organisasi fulan atau tidak.

• MAKNA HIZBIYAH YANG SEBENARNYA

Definisi hizbiyyah menurut Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, dari rekaman ceramah “Kasyfu as sitaar” :

“Hal ini menunjukkan kepada fanatisme terhadap gagasan tertentu yang menentang Al-Quran dan Sunnah, menampakkan kesetiaan dan permusuhan di atas gagasan itu, hal ini adalah hizbiyyah, walaupun dia tidak termasuk kedalam suatu organisasi. Tapi dia memiliki pemahaman menyimpang di dalam dirinya, dan mengumpulkan orang-orang dengan gagasan itu maka ini adalah termasuk berhizbi. (Definisi ini) tidak ada bedanya baik ia masuk di dalam sebuah organisasi ataupun tidak … ”

Menurut Syaikh Muqbil bin Hadi al-wadi’i, dalam kitabnya Tuhfatul Mujeeb : “Hal ini dikenal dengan loyalitas sempit. Siapapun yang bersama mereka akan dihormati, dan mengajak orang-orang untuk mengikuti dan untuk mengelilingi orang yang bersama mereka tersebut, sedangkan siapa saja yang tidak bersama mereka maka dianggap sebagai musuh. ”

Menurut Muhammad Hizaam : “Makna hizbiyyah adalah sebuah kelompok dari orang-orang yang berkumpul di atas ide yang bertentangan dengan bimbingan Nabi. Mereka bergaul dan menjauh dengan itu sehingga persahabatan dan permusuhan mereka menjadi terbatas, hanya sepanjang ide-ide dan sasaran yang sedang mereka tuju tersebut. Ini adalah kefanatikan yang sangat tercela”.

Sumber Artikel : https://www.facebook.com/thalibul.ilmi.31

• APAKAH ORGANISASI ISLAM ADALAH HIZBI ?

Membuat organisasi adalah perkara muamalah, dan muamalah itu hukum asalnya mubah. Dan tentu saja membuat organisasi untuk dakwah dan menolong Islam adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al Maidah: 2).

Para ulama mengatakan bahwa membuat organisasi atau yayasan atau perkumpulan dalam rangka kebaikan adalah hal yang dibolehkan, selama tidak dijadikan sarana tahazzub (fanatik kelompok), dan tidak dijadikan patokan al wala wal bara’ sehingga sesama anggota organisasi dianggap teman dan di luar organisasi dianggap lawan.

Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi mengatakan :
”Disyariatkannya organisasi, yayasan, atau perkumpulan sosial adalah perkara yang tidak diingkari oleh siapapun. Selama aktifitas organisasi tersebut dalam rangka menolong, membela dan mendukung al haq. Dengan syarat, anggotanya bebas dari sifat tahazzub (fanatik kelompok) yang tercela, dan dari finah harta, dan hal-hal yang memperburuk dakwah di setiap tempat. Adapun jika aktifitas organisasi ini hanya untuk pencitra’an, padahal di balik itu ada perkata’an-perkata’an menyimpang seperti mencela para ulama bahwa mereka murji’ah atau jahmiyah atau mengatakan bahwa mereka itu bodoh terhadap realita umat, atau organisasi tersebut menggiring umat kepada fitnah terhadap penguasa, lalu mulailah fitnah takfir dan berakhir dengan pembunuhan, penghalalan darah dan pengeboman, atau organisasi yang memerintahkan anggotanya untuk berbaiat sehingga memecah belah kaum muslimin, maka organisasi yang demikian ini semua bukanlah aktifitas dari organisasi yang baik. Dan tidak selayaknya para donatur menyalurkan dana-dana mereka pada organisasi-organisasi yang demikian” (Siraajul Wahhaj Bi Shahihil Minhaj, 99).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyatakan :
“organisasi jika memang sudah banyak tersebar di berbagai negeri Islam dan dibangun dalam rangka memberi bantuan dan dalam rangka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa antar sesama muslim, tanpa diselipi dengan hawa nafsu, maka ini sebuah kebaikan dan keberkahan. Dan manfa’atnya sangat besar. Adapun jika antar organisasi menyesatkan organisasi yang lain dan saling mencela aktifitas organisasi lain, maka ini bahayanya besar dan fatal akibatnya” (Majmu’ Fatawa Mutanawwi’ah 5/202-204, bisa dilihat di http://www.binbaz.org.sa/mat/46).

Dan tidak benar sebagian orang yang menuduh orang yang ikut dalam organisasi Islami telah terjerumus dalam hizbiyah dan bid’ah yang tercela.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan : “Organisasi apapun yang dibangun dengan asas Islam yang shahih, yang hukum-hukumnya diambil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah sesuai dengan apa yang dipahami salafus shalih, maka organisasi apapun yang dibangun dengan asas ini tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Dan tidak ada alasan untuk menuduhnya dengan hizbiyyah. Karena ini semua termasuk dalam firman Allah Ta’ala : “Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa“. Dan saling tolong-menolong itu adalah tujuan yang syar’i. Dan organisasi ini telah berbeda-beda sarananya dari zaman ke zaman dan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain. Oleh karena itu menuduh organisasi yang memiliki asas demikian dengan tuduhan hizbiyyah atau bid’ah adalah hal yang tidak ada alasan untuk mengatakannya. Karena ini menyelisihi apa yang dinyatakan oleh para ulama dalam membedakan antara bid’ah yang disifati sesat dengan sunnah hasanah” (Silsilah Huda Wan Nuur, no.590, transkrip dari http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=8964).

Oleh karena itu, kita pun melihat para ulama dari zaman ke zaman mereka juga membuat organisasi diantaranya Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta, Hai’ah Kibaril Ulama, Majma’ Fiqhil Islami, dll.

• FATWA SYAIKH BIN BAZ

Pendapat Syaikh bin Baz Ketika ditanya tentang jama’ah-jama’ah Islam yang berada di dalam ummat Islam, Syaikh bin Baz menjelaskan : “Adapun jama’ah-jama’ah jika terdapat banyak jenisnya di negara-negara kaum muslimin yang kesemuanya bertujuan kebaikan dan membantu serta saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwa’an diantara kaum muslimin serta tidak mengikuti hawa nafsu, MAKA ITU SEMUA ADALAH BAIK DAN BAROKAH SERTA MANFA’ATNYA SANGAT BESAR, … “

Syaikh bin Baz berpendapat bahwa Hizbiyyah tidak sama dengan kelompok. Sebab kalau
“Hizbiyyah sama dengan kelompok”, tidak mungkin beliau mengatakan bahwa itu semua adalah baik, barokah, dan bermanfa’at.

Selanjutnya, beliau menjelaskan :

“… Adapun jika JAMA’AH TERSEBUT SALING MENFATWAKAN SESAT TERHADAP JAMA’AH YANG LAINNYA DAN MENJELEK-JELEKKAN PERBUATAN JAMA’AH LAINNYA MAKA JAMA’AH TERSEBUT ADALAH JAMA’AH YANG MEMILIKI KEBURUKAN SERTA BAHAYA YANG SANGAT BESAR.”

Inilah penjelasan dari Syaikh tentang ”Jama’ah yang hizbiyyah”.

Makna Hizbiyyah yang sebenarnya adalah “kelompok yang fanatik pada kelompoknya sendiri, dan dengan keyakinan itu mereka aktif membid’ah-bid’ahkan kelompok lain dan menjelek-jelekkan kelompok lain”. Inilah kelompok yang “hizbiyyah” dalam makna sebenarnya. Inilah kelompok yang mendapat gelar “dharaarun ‘azhim” (memiliki keburukan yang luar biasa besar) oleh Syaikh bin Baz sendiri pada penjelasan beliau di atas.

Dan kelompok ini pula-lah yang telah menyalah artikan makna hizbiyyah, dari makna sebenarnya menjadi makna “hizbiyyah = kelompok”.

Penjelasan Syaikh bin Baz di atas bisa dilihat di : http://www.binbaz.org.sa/mat/46

• FATWA AL-LAJNAH AD-DAIMAH

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah No. 6270 Mengenai Jama’ah-jama’ah Islam

Pertanya’an : Ada sekian jama’ah pada sa’at ini, seperti Jama’ah Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Jama’ah Ansharus Sunnah Al-Muhammadiyyah, Al-Jum’iyyah Asy-Syar’iyyah, Salafi, dan mereka yang disebut At-Takfir wal Hijrah. Semua jama’ah ini dan jama’ah lainnya terdapat di Mesir.

Yang saya tanyakan, “Bagaimana sikap seorang muslim terhadap jama’ah-jama’ah tersebut ? Pantaskah jika kita terapkan kepada mereka hadits Hudzaifah radhiallahu’anhu,
‘Jauhilah semua kelompok itu meskipun engkau harus menggigit akar pepohonan hingga meninggal dunia sedangkan dirimu tetap dalam keada’an seperti itu’. (HR. Imam Muslim dlm Shahihnya) ?”

Jawaban : Semua kelompok tersebut memiliki kebenaran dan kebatilan serta salah dan benar. Sebagian mereka lebih dekat kepada kebenaran, lebih banyak kebaikannya, dan lebih banyak memberikan manfa’at kepada umat daripada kelompok lainnya. Hendaknya engkau saling membantu bersama setiap kelompok dalam kebenaran yang ada pada mereka. Nasihatilah mereka dalam perkara yang engkau lihat salah. Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu menuju sesuatu yang tidak meragukanmu. Billahit taufiq. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasalam, keluarganya, dan para sahabatnya. http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=77
Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah tentang Semua Jama’ah Islam termasuk dalam Firqah Najiyyah

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah : Semua Jama’ah Islam Termasuk Dalam Al-Firqah An-Najiyyah, Kecuali Jika Ada di Antara Mereka Melakukan Kekufuran yang Mengeluarkannya dari Dasar Keimanan Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 7122.

Pertanyaan : Pada zaman ini terdapat banyak jama’ah. Semua mengklaim berafiliasi di bawah al-firqahan-najiyyah. Kami tidak mengetahui manakah jama’ah yang berada di atas al-haq. manakah jama’ah yang paling utama dan paling baik ? Jawaban : Semua jama:ah Islam termasuk dalam al-firqatun najiyah, kecuali jika ada di antara mereka melakukan kekufuran yang mengeluarkannya dari dasar keimanan. Akan tetapi, perbeda’an kekuatan dan kelemahan derajat mereka tergantung pada kedekatan mereka dengan kebenaran dan penerapannya serta pada kesalahan mereka dalam memahami dalil dan penerapannya. Jama’ah yang paling banyak mendapat hidayah adalah jama’ah yang paling bisa memahami dalil dan mengamalkannya. Oleh karena itu, kenalilah arah pandangan mereka. Bergabunglah bersama mereka yang paling banyak mengikuti kebenaran. Tetapi, janganlah berbuat semena-mena terhadap saudara sesama muslim yang karenanya Anda menolak kebenaran yang mereka lakukan. Ikutilah kebenaran di mana pun ia berada, sekalipun berasal dari orang yang bertentangan denganmu dalam satu dua masalah. Kebenaran adalah penuntun orang mukmin. Kekuatan dalil dari Kitabullah dan Sunnah merupakan pemisah antar kebenaran dan kebatilan.

Billahit taufiq. Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’

Dari berbagai sumber :

http://muslim.or.id/manhaj/hukum-organisasi-dan-taat-pada-pimpinan-organisasi.html

http://dpdhasmibogor-depok.blogspot.com/2011/05/harakah-bidah.html?m=1

http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=78

http://ihwansalafy.wordpress.com/2007/10/08/fatwa-al-lajnah-ad-daimah-tentang-semua-jamaah-islam-termasuk-dalam-firqah-najiyyah/

http://anshoruttauhid.blogspot.com/2009/02/apakah-bertandzim-berharakah-bukan.html?

________

Advertisements

NASEHAT SYAIKH ‘ABDUL MUHSIN AL-‘ABAD KEPADA SYAIKH RABI’

NASEHAT SYAIKH ‘ABDUL MUHSIN AL-‘ABAD KEPADA SYAIKH RABI’ BIN HADI

Asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu berkata :

الشيخ ربيع من المشتغلين بالعلم في هذا الزمان وله جهود جيدة وجهود عظيمة في الاشتغال بالسنَّة ، وكذلك التأليف له تآليف جيده ومفيدة وعظيمة .

Syaikh Rabi’ adalah termasuk diantara orang yang sibuk dengan ilmu di zaman ini. Beliau memiliki upaya yang baik dan upaya yang besar di dalam sibuk membahas sunnah Nabi. Demikian pula dengan karya-karya tulis beliau, adalah karya-karya tulis yang bagus, bermanfa’at dan luar biasa.

Namun sayangnya, akhir-akhir ini beliau lebih banyak sibuk dengan perkara yang beliau tidak seharusnya menyibukkan diri dengannya. Akanlah lebih bermanfa’at apabila beliau mau kembali menyibukkan diri dengan kesibukan di awal waktu beliau dan menekuni upaya yang lebih bermanfa’at di dalam menulis. Baru-baru ini, beberapa perkara yang berkaitan dengan beliau telah terjadi dan kami tidak menyetujui akan perkara tersebut.

نسأل الله عز وجل أن يوفقنا وإياه لكل خير وأن يوفق الجميع لما تحمد عاقبته

Kami memohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar memberikan taufiq-Nya kepada kita dan kepada beliau di dalam semua hal yang baik serta semoga Alloh memberikan taifiq-Nya kepada semuanya terhadap semua hal yang dapat menghantarkan kepada akhir yang baik.

أنا لا أطعن فيه ، ولا أحذر منه وأقول أنه من العلماء المتمكنين

Kami tidak mencela beliau dan tidak pula mentahdzirnya. Kami katakan, beliau termasuk ulama yang mumpuni.

Dan sekiranya beliau mau kembali menyibukkan diri dengan ilmu dan tetap serius menekuninya, niscaya beliau akan memberikan manfa’at yang banyak. Sebelum masa ini, karya beliau terdahulu lebih banyak dibandingkan karya beliau yang sekarang.

أنا أعتبر الشيخ ربيع من العلماء الذين يُطمئن إليهم وفائدتهم كـبيرة

Kami menganggap bahwa syaikh Rabi’ adalah termasuk ulama yang kami merasa tenang (mantap) dengannya dan kemanfa’atan pada diri beliau sangatlah besar.

Namun, ucapan seseorang bisa diterima dan bisa pula ditolak, tak ada seorangpun yang ma’shum (kecuali Nabi). Kami pribadi tidak menyetujui beliau di dalam beberapa masalah yang terjadi, terutama dalam masalah yang baru-baru ini terjadi berkaitan dengan fitnah yang telah menyebar dan semakin meluas. Para penuntut ilmu mulai saling meng hajr satu dengan lainnya, saling bertikai dan bercekcok antara satu dengan lainnya, sebagai hasil/dampak dari apa yang tengah berlangsung antara beliau (Syaikh Rabi’) dengan selain beliau. Sampai pada puncaknya, manusia terpecah menjadi dua kubu, dan fitnah semakin menjadi luas dan mendatangkan malapetaka.

Adalah wajib atas beliau dan selain beliau untuk meninggalkan hal yang dapat melanjutkan terjadinya fitnah ini, dan juga harus (bagi mereka) meninggalkan ziyadah (tambahan) dan istimrar (terus menerus) di dalam hal ini. Mereka semua haruslah menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat, karena tanpa hal inilah (menyibukkan dengan ilmu) yang telah menyebabkan terjadinya perpecahan dan pengkotak-kotakkan ini.

Kami memohon kepada Alloh Azza wa Jalla untuk memberikan taufiq-Nya kepada kita semua.

Syaikh ’Abdul Muhsin al-’Abbad memberikan nasehat kasih sayang kepada saudaranya, Syaikh Rabi’ bin Hadi, untuk menunjukkan bagaimana seharusnya ahlus sunnah, terlebih apabila berbeda pendapat.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sangat menyedihkan dengan ulah sebagian oknum yang mengatas namakan diri mereka sebagai salafiy, namun amal dan ilmunya menunjukkan jauhnya ia dengan dakwa’annya tersebut.

Mereka terkenal dengan sikap mudah mencela, menghujat, menvonis bid’ah, menggelar-gelari manusia dengan gelar buruk, merusak kehormatan para du’at ahlus sunnah, mencari-cari kesalahan mereka, mengumpulkan aib-aib mereka, dan menyebarkannya.

Sehingga, fitnah ini dapat dikonsumsi oleh khayalak umum dan dijadikan sebagai bumerang untuk menyerang dakwah salafiyyah mubarokah ini. Mereka inilah yang merusak dakwah dari dalam dan merusak nama baik para ulama ahlus sunnah.

Menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat lebih utama daripada memperbincangkan tentang keadaan Fulan dan Fulan, terlebih lagi apabila sama-sama ahlus sunnah. Hal ini yang ditekankan oleh Syaikh ’Abdul Muhsin, baik kepada para ulama semisal Syaikh Rabi’ maupun selainnya.

Semoga Alloh mempersatukan umat islam di atas sunnah dan menjadikan mereka saling berkasih sayang di atas sunnah.

https://docs.google.com/document/d/12pV3OpeJ5IDKwzzzuACYLRhgbR9Sz1ANt1dWhS3zFCo/mobilebasic?viewopt=127

____

MANHAJ SYAIKH ROBI’ TIDAK SAMA DENGAN MANHAJ ULAMA KIBAR

Memaksakan samanya manhaj Syaikh Robi’ dengan manhaj para ulama kibar adalah kekeliruan yang sangat nyata. Tentang kerasnya (tasyaddud) Syaikh Robi’ dalam mentahdzir dan mentabdi’ sesama Ahlus Sunnah.

Apakah para ulama kibar seperti itu ??

Sungguh manhaj Syaikh Robi’ menyelisihi manhaj ulama kibar

Adakah satu kitab saja tulisan Syaikh Bin Baaz, atau Syaikh Utsaimin, atau Syaikh Al-Albani yang modelnya seperti Syaikh Robi yang sangat mudah mentahdzir dan mentabdi’ ?

_________

MANHAJNYA PARA WANITA

MANHAJNYA PARA WANITA

Syaikh al-‘Utsaimin telah menegaskan bahwasanya orang yang manhajnya seperti ini, yaitu hanya mengingat satu atau dua kesalahan dan melupakan banyak kebaikan adalah manhajnya para wanita. Beliau rahimahullah berkata : “Ibnu Rajab berkata dalam muqaddimah kitab Qawaa’id-nya, ‘Orang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan seseorang yang sedikit karena kebenarannya yang banyak.’ Tidaklah seorang pun mengambil kesalahan dan lupa dengan kebaikan melainkan ia telah menyerupai para wanita. Sebab jika engkau berbuat baik kepada seorang wanita sepanjang zaman lalu ia melihat satu keburukan padamu niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak melihat kebaikan pada dirimu.’ Tidak seorang lelaki pun ingin kedudukannya seperti ini, yaitu seperti wanita, yang mengambil satu kesalahan kemudian melupakan kebaikan yang banyak.” (Liqaa’ al-Baab al-Maftuuh, no (120), side A)

Berikut ini potongan-potongan dari perkataan Syaikh Al-‘Utsaimin tentang perselisihan yang terjadi diantara ahlus sunnah

“Apakah engkau Quthbi ataukah Jamiah? Ini semua tidak perlu….

Jika para pemuda dididik di atas manhaj seperti ini maka keesokan hari akan menimbulkan keburukan yang sangat besar….

Apakah termasuk keadilan jika seseorang mencela orang lain dan sama sekali tidak menyebutkan kebaiknnya?, manhaj seperti ini jelas salah”.

_____

SESAMA AHLU SUNNAH BERSATULAH

SESAMA AHLU SUNNAH BERSATULAH

Mengawali risalah ini, saya bawakan kepada pembaca yang budiman firman Allah ta’ala yang menegaskan ikatan persaudaraan setiap mukmin, wajibnya memperbaiki hubungan di antara mereka, dan perintah bertakwa kepada-Nya dalam hal itu, firman-Nya,

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat limpahan rahmat”. (QS. al-Hujurat: 10).

Kemudian termotivasi dari sebuah hadis Nabi yang agung yang diriwayatkan imam Muslim rahimahullah dalam sahihnya dari shahabat Tamim bin Aus ad-Dary radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“الدين النصيحة”, قلنا: لمن؟ قال: “لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين، وعامتهم”

“Agama adalah nasehat”. Kami bertanya untuk siapa (Ya Rasulullah) ? beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan umumnya mereka.”

Maka, terpanggilah saya untuk menerangkan sedikit kebaikan yang saya ketahui. Sebagai nasehat bagi saya pribadi dan siapa saja yang membacanya bagi siapa yang niatnya mencari kebenaran. Saya bagi tulisan ini menjadi tiga bagian:

1.Alasan menulis surat ini
2.Masalah dan keterangannya
3.Nasehat

A. Alasan Menulis

Dengan sangat menyedihkan saya katakan bahwa akhir-akhir ini timbul kembali perselisihan di antara sesama ahlis sunnah. Perselisihan itu terjadi karena adanya perbedaan sudut pandang mengenai TV/Radio Rodja. Meskipun menurut penulis, hal itu sebenarnya bukan pokok masalahnya, tetapi tidak lebih hanya satu cabang dari masalah yang ada selama ini. Di sini penulis tidak bermaksud membahas jauh tentang Rodja karena saya kira adanya rekom dan kerelaan para masyaikh kibar ahlis sunnah utamanya seperti syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr dan putera beliau syaikh Dr. Abdurrazzaq al-Badr hafizhahumullah paling tidak sudah cukup menjadi pertimbangan sisi syar’inya media tersebut.

Di sisi lain, dan yang sangat disayangkan, masalah furu’ seperti ini oleh para penuntut ilmu dijadikan sebagai ajang al-wala wal bara (menjalin keloyalan kepada satu pihak dan memusuhi pihak yang lain) yang diterapkan kepada sesama ahlis sunnah. Padahal semestinya kehadiran media siaran seperti ini sangat patut kita syukuri, kita dukung dan kita sosialisikan di tengah-tengah masyarakat di tengah maraknya media siaran umum yang sarat dengan kelalaian, perbuatan dosa, kefasikan, maksiat bahkan kekufuran, wal’iyadzubillah, semoga Allah senantiasa memelihara kaum muslimin dari padanya. [1]

Selanjutnya, mereka yang kontra terhadap TV Rodja ini secara umum sampai para senior mereka kebanyakan tidak mendatangkan dalil/alasan syar’i untuk melarang menonton media ini kecuali fatwa yang datang dari seorang ulama, yakni syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah atau masyaikh yang berjalan di belakangnya. Fatwa syaikh tersebut dibangun di atas pertanya’an yang diajukan oleh saudara-saudara tadi yang sejak awal memang telah menyimpan ‘sesuatu’ terhadap TV Rodja dan ditambah lagi adanya tuduhan syaikh kepada salah seorang pemateri yang aktif di TV tersebut.

Berangkat dari ini semua, maka saya akan menerangkan sedikit tentang kedudukan syaikh Rabi’ hafizhahullah di mata ulama-ulama di Arab Saudi secara khusus tentang fatwa beliau yang berisikan jarah (kritik) di masa belakangan ini. Hal ini tidak bermaksud merendahkan beliau tetapi untuk membuka wawasan saudara-saudaraku ahlis sunnah yang belum memahami duduk permasalahan supaya dapat melihat dengan sebenarnya posisi beliau di sisi kebanyakan ulama di sana.

B. Masalah dan Keterangannya

Sudah dimaklumi bahwa Syaikh Rabi al-Madkhali hafizhahullah adalah seorang ulama yang dikenal gigih di dalam membela akidah dan manhaj ahlis sunnah wal jama’ah dan dakwah as-salafiyah. Di lain sisi yang harus diakui bahwa beliau juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan ketergelinciran sebagaimana yang lain. Perkataannya terkadang benar dan terkadang juga salah. Karenanya, terkadang diterima dan boleh juga ditolak. Dan ini kaedah yang saya kira diterima oleh seluruh ahlis sunnah dan atsar. Kesalahan seorang alim tidak menjatuhkan kehormatannya selama ia kembali/rujuk pada saat diperingatkan dengan kebenaran dan tidak bertahan di atas kesalahannya. Sebagaimana juga tidak dijatuhkan kehormatan seorang ulama yang tergelincir dalam suatu kesalahan selama ia dikenal sebagai seorang yang memiliki keutamaan besar dan berkedudukan di tengah umat.

Namun yang amat menyedihkan dan disayangkan, di sana didapati pada diri syaikh Rabi al-Madkhali hafizhahullah kesalahan-kesalahan dan ketergelinciran yang sejauh ini belum diketahui rujuknya dan bahkan terus berjalan menyelisihi kebenaran yang ada pada shahabat dan senior beliau dari para ulama di Arab Saudi. Di antara kesalahan yang dimaksud :

1. Mencela beberapa imam salaf seperti, imam Abu Hanifah, an-Nawawi, asy-Syaukani, Ibnu Hajar rahimahumullah.

Dikutip dari situs : http://www.YouTube.com/watch?v=Fxpnapcgmfo,

syaikh mengatakan :

…كذاب الذي يقول النووي سلفي, كذاب الذي يقول لك النووي سلفي أشعري جلد من أول كتابته في مسلم إلى آخره…

“Pendusta siapa yang berkata (imam) Nawawi seorang salafi, pendusta siapa yang berkata kepadamu (imam) Nawawi salafi. (ia) Asy’ari yang teguh (tulen), dari pertama ia menulis (syarah) sahih muslim sampai selesai…”.

Perhatian : mengenai beberapa imam salaf yang lain yang tak luput dari cela’an beliau bisa dikunjungi di:

http://www.youTube.com/watch?v=ThjyQ1tySms

http://www.youTube.com/watch?v=2OM66aeBr5v

Padahal sudah dimaklumi dalam kaedah interaksi dengan ulama, bahwa ulama yang telah memiliki keutama’an besar untuk Islam dan kaum muslimin, maka kesalahannya telah larut dalam lautan keutama’annya, dengan tanpa mengakui dan mengikuti kesalahannya serta menjatuhkan kehormatannya. [2]

Perkata’an syaikh di atas mengandung beberapa bahaya :

– Perkataan bukan salafi, meskipun yang dimaksud syaikh adalah bukan salafi akidahnya dalam asma wa sifat (sebagaimana terlihat dari kontek kalimat) merupakan pemutlakan yang dapat mendatangkan anggapan tidak baik (su’uzhan) serta adab yang buruk kepada seorang ulama besar.

– Pernyata’an syaikh bahwa imam Nawawi seorang asy’ari yang teguh (tulen) adalah jarah (kritik) yang berlebihan, yang setahu penulis belum pernah dinyatakan oleh seorang ulama pun sebelumnya kepada beliau. Kebiasa’an ulama-ulama salaf terdahulu hingga kini adalah saling mendo’akan kebaikan dan memohonkan ampun atas ketergelinciran yang terjadi pada saudaranya. Memang imam Nawawi tergelincir di dalam permasalahan asma’ wa sifat, tetapi pernyata’an seperti di atas jelas dapat menjatuhkan kehormatan dan kedudukan ulama di mata umat. Yang sebenarnya dengan istilah (tergelincir dalam permasalahan asma wa sifat atau terpengaruh faham asy’ari) sudahlah mencukupi untuk beliau, semoga Allah mengampuni beliau rahimahullah.

2. Mengajak taklid kepada beliau

Pada suatu permasalahan yang diajukan kepada beliau, yaitu tentang pentingnya mengetahui permasalahan, baik itu fatwa atau semisalnya berikut dalilnya, Beliau berkata, sebagaimana dikutip dari situs: http://www.alathary.org/rabee/:

…تقليد قد يحتاج إليه الإنسان التقليد, الشافعي يقلد أحيانا وهو إمام يقلد التابعين…

“Taklid terkadang dibutuhkan oleh seseorang. (imam) Syafi’i terkadang juga taklid, padahal ia seorang imam, ia taklid kepada tabi’in…”

3. Berlebih-lebihan di dalam menyikapi lawan yang menyelisihi

Beliau mengatakan, sebagaimana dikutip dari situs : http://www.alathary.org/rabee/:

…أهل البدع أشر من الدجال…و مرة يقول, أشر من الشياطين, لأن البدع الآن وأهلها أساليب ولهم طرق ولهم نشاطات ويمكن ما كان يعرف الشياطين في الوقت الماضي…

“Ahli bid’ah lebih jahat / bahaya dari Dajjal…(di lain kesempatan beliau berkata), lebih jahat dari syaitan, sebab bid’ah dan para ahli bid’ah punya metode dan cara-cara dan juga spirit, yang mungkin cara-cara semacam itu tidak dikenal oleh syaitan di masa lalu…”

Perhatian :

Padahal belum pernah para ulama salaf dahulu mengucapkan ucapan sekeras ini kepada para penentangnya. Fitnah Dajjal adalah fitnah yang cukup besar, demikian pula syaitan musuh utama anak Adam, lalu adakah yang lebih berbahaya lagi dari Dajjal dan syaitan menurut syaikh?!

Dari sini akhirnya kita dapat mengenali betapa para pengikut pemikiran syaikh ini identik di dalam sikap dan perkata’annya yang terlalu berlebihan kepada sesama ahlis sunnah terkadang dan terlebih kepada ahli bid’ah. Etika dan sikap pada sa’at mengkritik dan kaedah-kaedah kritik sudah tidak diindahkan sama sekali. Demikian pula ketergesa-gesa’an dalam menvonis seseorang atau kelompok juga nampak pada para pengikut pemikiran syaikh ini. Semoga Allah memberi hidayah kepada semuanya.

4. Kesalahan dalam akidah

Beliau syaikh Rabi al-Madkhali hafizhahullah, sebagaimana dikutip dalam http://www.alathary.org/rabee/, juga dikritik atas permasalahan jenis amal, dimana beliau berkesimpulan bahwa jenis amal itu adalah syarat kamal iman (syarat kesempurnaan iman) dan bahwa iman itu pokok dan amal adalah cabang (penyempurna)[3]. Dan hal ini bukan karena kesalahan beliau berbicara sebab telah banyak masyaikh yang mengingatkan beliau tentang masalah ini namun beliau tetap pada pendiriannya. Dalam masalah akidah syaikh juga dikritik atas pertanyaan beliau yang membolehkan tanazul dari ushul pada sa’at darurat.

– Ini beberapa poin yang mudah saya bawakan dari perkara-perkara yang syaikh hafizhahullah menuai kritikan, dan meskipun di sana masih ada beberapa masalah yang menarik perhatian ulama lain, namun penulis kira hal di atas sudahlah cukup.

Untaian nasehat dan peringatan para Ulama dalam masalah ini ;

1). Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh

Beliau memberikan penjelasan atas pertanyaan yang diajukan kepada beliau seputar tabdi’ dan tahdzir (pembid’ahan dan celaan) yang sedang marak di tengah masyaikh dan penuntut ilmu. Di situs:www.YouTube.com/watch?v=cjCdVeaMpdI dan juga http://www.YouTube.com/watch?v=M1IFetm8a5c, yang berjudul :

– مفتي السعودية عبد العزيز آل الشيخ يحذر من منهج الشيخ ربيع المدخلي الذي يفرق الأمة

– بيان خطأ منهج الشيخ ربيع المدخلي ومن على شاكلته لغلوه في الجرح والتجريح والطعن والتقسيم

– Mufti Arab Saudi Abdul Aziz Alu Syaikh memberi peringatan terhadap manhaj syaikh Rabi al-Madkhali yang menyebabkan perpecahan umat

– Penjelasan tentang kesalahan manhaj syaikh Rabi al-Madkhali dan yang semisal beliau terkait ghuluwnya dalam jarah (kritikan), cara mengkritik, mencela, dan mengkotak-kotakkan manusia

Di sana beliau memberikan nasehat secara umum agar masing-masing bertakwa kepada Allah dan menjauhi segala hal yang dapat menimbulkan permusuhan dan perpecahan. Sebagaimana beliau juga memperingatkan dari sikap berlebihan di dalam mengkritik serta bertakwa kepada Allah di dalam mengoreksi kesalahan orang lain.

2). Syaikh Shaleh Fauzan

Beliau menjawab pertanyaan seputar masalah tahdzir yang diajukan kepada beliau dan tentang anggapan bahwa bahwa ada seorang ulama jarah wa ta’dil di masa sekarang. Sebagaimana dikutip dari situs:www.YouTube.com/watch?v=YFiaNyHVEWc, beliau mengatakan,

علماء الجرح والتعديل في المقابر الآن, لا يوجد جرح و تعديل في هذا الزمان, الموجود الآن شتم وغيبة و نميمة في الدعاة والمشايخ. الجرح والتعديل ليس فلان فيه كذا وفلان قال كذا وتتبع أخطاء الدعاة, الموجود الآن شتم و غيبة ونميمة في الدعاة هذا ليس جرح و تعديل

“Ulama jarah wa ta’dil sekarang sudah di pemakaman. Tidak ada jarah wa ta’dil di zaman ini. Yang terjadi sekarang adalah cela’an, ghibah, dan namimah (adudomba) di tengah para da’i dan masyaikh. Jarah wa ta’dil itu bukan ‘Si Fulan begini’ dan ‘Si Fulan berkata begini’, serta mencari-cari kesalahan para da’i. Yang terjadi sekarang adalah cerca’an, ghibah, dan namimah di tengah para da’i, ini bukan jarah wa ta’dil…”

3). Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad

Pada sebuah kesempatan, sebagaimana dikutip dari situs: http://www.YouTube/watch?v=w8sZ5LmMRwk, syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menyampaikan nasehatnya kepada syaikh Rabi al-Madkhali secara khusus.

Beliau berkata :

انشغل بما كنت عليه أولا من الجد والإجتهاد والعلم النافع, فلا نوافقك على ما يحدث في الأوان الأخيرة من تبديع العلماء, ولو رجعت على ما كنت عليه الألباني لكان أفضل و أنفع للمسلمين, فنحن نخالفك في هذه الفتنة التي حصلت…

“Giatkan dirimu seperti yang dulu, berupa keseriusan dan kesungguhan serta (giat) di dalam ilmu yang bermanfaat. Aku tidak setuju denganmu atas apa yang terjadi di hari-hari ini terkait pembid’ahan terhadap ulama. Seandainya engkau seperti dulu sewaktu (hidupnya) al-Albani tentulah lebih utama dan lebih bermanfa’at terhadap kaum muslimin. Jadi Aku menyelisihimu tentang fitnah yang terjadi ini…”

4). Syaikh Abdullah al-Ghudayyan

Dalam suatu kesempatan tanya jawab yang terjadi antara syaikh al-Ghudayyan dengan salah seorang penuntut ilmu sebagaimana dikutip dari situs: http://www.YouTube.com/watch?v=wphsIzZwTzo, syaikh menjelaskan beberapa hal tentang jarah wa ta’dil, kemudian tentang tanazul dari ushul ketika darurat sebagaimana hal ini dibolehkan oleh syaikh Rabi al-Madkhali, demikian juga tentang jenis amal yang menurut syaikh Rabi adalah syarat kamal (syarat kesempurnaan) dan bukan syarat sah.

Berikut petikan sebagian tanya jawab tersebut :

السائل: يا شيخ هناك من يقول أن الدكتور ربيع المدخلي حامل لواء الجرح و التعديل؟

الشيخ: لا, أنا لو صادفني في الطريق ما عرفته يمكن

Penanya : “Ya syaikh, ada yang berkata bahwa Dr. Rabi al-Madkhali adalah pembawa bendera (pemimpin) jarah wa ta’dil ?”

Syaikh : “Tidak, sekiranya ia berpapasan denganku di jalan, mungkin Aku tidak mengenalinya…” (sebagai seorang imam jarah wa ta’dil).

• Sekilas profil ulama-ulama di atas

1. Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh

Beliau lahir tahun 1362 H dan kehilangan penglihatan sejak usia 19 tahun. Sampai sekarang umur beliau telah mencapai 73 tahun–semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan beliau. Akhir jabatan beliau adalah anggota Ha’iah Kibar Ulama dan Lajnah Da’imah lil’Ifta di masa syaikh al-Imam Ibnu Bazz masih hidup. Dan sewafat syaikh Ibnu Bazz beliau diangkat sebagai mufti kerajaan Arab Saudi sampai sekarang.

2. Syaikh Abdullah al-Ghudayyan

Beliau lahir tahun 1345 H. Dikenal sebagai ulama ahli ushul fikh. Guru beliau utamanya, syaikh Ibnu Bazz, syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, syaikh asy-Syinqithi rahimahumullah. Jabatan terakhir beliau adalah anggota Hai’ah Kibar Ulama dan Lajnah Da’imah. Beliau wafat tahun 2011 M kemarin dalam usia 86 tahun rahimahullah ta’ala.

3. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr

Beliau lahir 1353 di daerah Zulfa. Sampai sekarang umur beliau 82 tahun–semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan beliau. Guru beliau utamanya, syaikh Abdullah Mani’, syaikh Muhammad bin Ibrahim, syaikh Ibnu Bazz, syaikh asy-Syinqithi, syaikh Abdurrahman al-Afriqi rahimahumullah. Jabatan terakhir sebagai wakil Univ. Islam Madinah di masa syaikh Ibnu Bazz sebagai Rektornya. Dan sejak diangkatnya syaikh Ibnu Bazz sebagai Mufti beliau sebagai Rektornya. Di masa kepemimpinan dua syaikh ini, Universitas mengalami kemajuan yang cukup pesat, sampai-sampai ada yang mengatakan ‘itu Universitasnya Ibnu Bazz dan al-Abbad’. Meski kini beliau telah pensiun namun beliau tetap aktif mengajar di berbagai tempat dan kesempatan termasuk di masjid Nabawi.

3. Syaikh Dr. Shaleh Fauzan

Beliau lahir tahun 1354 H. Sampai sekarang umur beliau 81 tahun, semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan beliau. Guru beliau utamanya, syaikh Ibnu Bazz, syaikh Abdurrazzaq Afifi, syaikh asy-Syinqithi, syaikh Abdullah Humaid rahimahumullah. Jabatan terakhir beliau sebagai anggota Hai’ah Kibar Ulama dan Lajnah Da’imah sampai sekarang. Kedudukan beliau dalam bidang fatwa telah mu’tabar di sisi jumhur ulama dan umat secara umum. Dalam sebuah situs: http://www.ar.islamway.net/scholar/99?ref=search , disebutkan:

تواترت الأخبار بأن سماحة الشيخ ابن باز لما سئل “من نسأل بعدك؟” فقال: “الشيخ صالح فوزان”, فقيل “أنسأل فلانا؟” قال: “فلان فقيه ولكن اسأل الشيخ صالح. وقد سئل الشيخ محمد المنجد الشيخ ابن عثيمين في مرض موته: “من تنصحني أسأل بعدك يا شيخ؟” فقال الشيخ: “صالح فوزان وفلان و فلان…

Telah tersebar berita, ketika syaikh Ibnu Bazz ditanya, “kepada siapa (ya syaikh) kami bertanya setelahmu ?” beliau menjawab, “syaikh Shaleh Fauzan.” Ditanya lagi, “Apakah juga Fulan ?” beliau menjawab, “Ya, Fulan seorang yang faqih, tapi bertanyalah kepada syaikh Shaleh.” Sementara itu, syaikh Muhammad al-Munajid bertanya kepada syaikh Ibnu Utsaimin di sa’at sakit beliau yang mengantar kepada kematian, “Siapa yang engkau percayakan untuk Aku bertanya nanti setelahmu ya syaikh ?” syaikh menjawab, “Shaleh Fauzan, dan Fulan..dan Fulan..

C. Nasehat

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan beberapa patah nasehat untuk seluruh saudaraku ahlis sunnah :

1. Kepada para asatidzah hendaklah bertakwa kepada Allah dengan sebenarnya dalam masalah ini, yakni dengan :

Menjaga lisan dan sikap terhadap sesama da’i ahlis sunnah terutama yang tidak sefaham mungkin dalam perkara-perkara furu’. Dan sebaliknya, mendo’akan kebaikan untuk sesama du’at dan masyaikh ahlis sunnah secara umum.

Tidak terburu-buru menyampaikan hal-hal yang bersifat ijtihadi yang disana para ulama tidak ada kesepakatan tentangnya yang sekiranya dapat menimbulkan perselisihan dan perpecahan di tengah umat serta mencemarkan nama baik dakwah yang mubarakah ini.

Mendalami masalah ushul dakwah dan mengedepankan yang terpenting dan baru yang penting begitu seterusnya serta memperhatikan maslahat dan mafsadat yang timbul. Yang diharapkan dengan ini semua terwujudnya kebaikan dan tersebarnya akidah dan manhaj salaf ini di tengah-tengah umat islam.

2. Kepada para penuntut ilmu hendaknya bertakwa kepada Allah dengan sebenarnya dalam masalah ini, yakni dengan :

Menggiatkan diri dalam ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Dan tidak larut dalam masalah khilafiyat yang merusakkan.

Tidak terburu-buru menyerap semua berita yang bernuansa fitnah kecuali setelah mencari kejelasan dari sumber-sumber yang tepercaya.

Memperhatikan adab-adab menuntut ilmu sampai benar-benar berhasil menguasai setiap disiplin ilmu yang dipelajari dari para asatidzah.

Demikian kesimpulan surat ini, saya memohon kepada Allah azza wa jalla dengan nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifatnya yang mulia agar memperbaiki hati dan amalan kita dan senantiasa menuntun kita di jalan yang dicintai dan diridhai-Nya sampai hari kita berjumpa dengan-Nya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله و صحبه أجمعين وآخر دعوانا ان الحمد لله رب العالمين

Kuala Simpang, malam ahad 26 Jumadil akhi 1435/26 April 2014

Eko Yuwono Abul Hasan

Penting

– Tulisan ini bukan untuk mengurangi kehormatan ulama, tetapi menunjukkan sisi ketergelinciran yang tidak boleh diikuti secara syara’. Kesalahan ini yang wajib ditinggalkan dengan tetap menghormati ulama dan mengambil faedah ilmu mereka.

– Tulisan ini bukan untuk mengingkari syar’inya jarah wa ta’dil ataupun inkarul munkar, tetapi yang diingkari adalah jarah (kritik) yang ghuluw, yang keluar dari koridor syar’i dan termasuk di dalam firman Allah ta’ala,

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا‌ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan menduga (mencurigai), karena sebagian dari dugaan itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (QS. al-Hujurat: 12).

– Tulisan ini tidak berlaku seterusnya. Andaikata nanti diketahui rujuknya syaikh (dan ini yang selalu kita mohonkan kepada Allah) dari masalah-masalah yang beliau tergelincir padanya, maka dimohonkan tulisan ini untuk dimusnahkan.

– Tulisan ini hanya untuk kalangan sendiri dan bukan untuk kalangan awam.

***

[1] Untuk memastikan sisi syar’inya TV Rodja pembaca bisa membaca program-program siarannya berikut para pematerinya.

[2] Periksa keterangan imam Ibnul Qayyim dalam I’lam Muwaqqi’in (3/295) sebagaimana dinukil oleh syaikh Abdurrahman al-Luwaihiq al-Muthiri dalam Qawa’id Ta’amul ma’al Ulama hal 141.

[3] Ahlis sunnah berkeyakinan bahwa jenis amal merupakan syarat sah iman (syarthu sihhah), sebagaimana keterangan syaikh Abdullah al-Ghudayyan dan masyaikh yang lainnya dalam masalah ini. Sedangkan keyakinan jenis amal adalah syarat kesempurnaan iman (syarthu kamal) adalah akidah Murji’ah. Ahlis sunnah meyakini bahwa iman terdiri dari tiga unsur yakni, ucapan, keyakinan, dan amal yang tidak dapat dipisahkan. Simak keterangan syaikh Shaleh Fauzan di: http://www.YouTube.com/watch?v=oOzAC-jqD3k.

http://hanifa-muslimaa.blogspot.com/2014/05/nasehat-untuk-saudarkau-ahlissunnah-1.html

http://nasehat-tukpencarialhaq.blogspot.com/2014/08/nasehat-untuk-saudaraku-ahlissunnah.html?m=1

___________

BAGAIMANA CARA MENYADARKANNYA ?

BAGAIMANA CARA MENYADARKANNYA ?

Begitu gemuruh gerombolan penyesat umat, ahli bid’ah, kaum sufi, syi’ah rafidoh, pemuja kuburan, dukun bersorban dan penipu umat lainnya.

mereka ramai-ramai menyeret umat, dan umat pun semarak gegap gempita menyambut tokoh-tokoh penyesat umat tersebut dan menjadikannya sebagai manusia tanpa cela.

Tokoh-tokoh penyesat umat yang mereka idolakan dan dewakan, mendoktrin umat untuk selalu manut, nurut, taklid kepada apa yang di ajarkannya.

Sungguh malang nian umat yang sebetulnya mereka punya gairah yang besar mendalami agama tapi malah terperosok kedalam kesesatan yang bisa melemparkannya kedalam api neraka.

Bagaimana perasa’an kita menyaksikan orang-orang yang menyimpang tersesat dalam agama bahkan setelah itu mereka menyesatkan orang lain ?

Sungguh amat menyedihkan mengiris hati terlebih lagi mereka itu adalah orang terdekat kita, sahabat atau kerabat misalnya ?

Ingin rasanya mengatakan kepadanya kalau fahamnya itu salah, rusak, menyimpang dan sesat. Tapi tentu saja apa yang kita ucapkan itu tidak mungkin bisa diterimanya, malah sebaliknya dia bisa mengatakan justru kita yang rusak, menyimpang dan tersesat.

Apakah terus dibiarkan mereka seperti itu ?

Dengan cara apa harus kita peringatkan ?

Dengan perkata’an ?

Rasanya tidak mungkin, karena mereka punya sederet tokoh yang di idolakan yang selalu didengarkan kata-katanya.

Dengan tulisan ?

Juga sepertinya tidak mungkin, tulisan yang kita berikan akan dicampakkannya, karena hanya tulisan dari ustad-ustadnya, guru-gurunya yang selalu dia simak dan perhatikan.

Adapun perkata’an dan tulisan yang datang selain dari ustadz-ustadznya menurutnya adalah salah, tidak benar dan harus di jauhi.

Mungkin ustadz-ustadznya, teman-teman pengajiannya selalu berpesan :

”ILMU DARI USTADZ-USTADZ KITA SUDAH CUKUP”.

”Jangan mau diajak ngaji ke tempat yang tidak sefaham dengan kita, keluar dari masjid kalau ustadznya bukan dari kalangan kita”.

Mungkin begitu mereka saling berpesan, mungkin juga ustadz-ustadznya yang mengajarkan jangan duduk-duduk dengan orang yang tidak sefaham dengan kita.

Subhanallaah . .

”Kalau sudah begitu apa yang bisa kita lakukan ?

Hanya bisa mengelus dada . .

”Aku sayang kamu, aku tidak mau kamu tersesat. Aku ingin meluruskan kamu”.

Bukan ingin kelompokku jadi besar bertambah jama’ahnya, karena aku tidak berbaris di salah satu kelompok. Aku tidak ta’ashub (fanatik) kepada kelompok tertentu.

”Aku hanya sayang sama kamu, aku tidak mau kamu menyimpang sampai tersesat dan menyesatkan orang lain”.

Shalafus Shaleh adalah generasi terbaik umat, mereka tidak mengajarkan fanatik kepada suatu kelompok.

Imam Malik berfaham kalau baca fatihah basmalahnya tidak di keraskan tapi ketika berkunjung ke Madinah dan di minta jadi Imam, Imam Malik mengeraskan baca’an basmalahnya ketika baca fatihah. Karena di Madinah baca’an basmalahmya di keraskan. Imam Malik tidak membid’ahkan orang yang tidak sefaham dengannya. Itulah contoh Shalafus Shaleh, teladan umat. Generasi terbaik umat.

Kenapa mereka yang menyimpang, tertipu dan menipu yang lainnya sulit sekali meninggalkan keyakinannya ?

Jauhnya dari bimbingan ulama yang benar dan manhaj yang rusak, sehingga menjadikan mereka demikian.

Apakah tidak diajarkan oleh ustadz-ustadznya bahwa :

– Taklid itu tidak dibenarkan dalam Islam, Shalafus Shalih tidak ada yang menyuruh umat untuk taklid kepada siapapun.

– Siapapun, Ulama manapun dan sehebat bagaimanapun seorang Ulama tetaplah manusia yang bisa salah, keliru dan tergelincir.

– Islam melarang untuk ta’ashub, fanatik kepada salah satu kelompok, fanatik kepada ustadz-ustadz dari kalangan tertentu saja.

Apakah ustadz-ustadz mereka yang di idolakan dipuja setinggi bintang di langit tidak mengajarkan kepada mereka bahwa para Sahabat pun, para Imam pun mereka ada beda pendapat, tetapi diantara para Sahabat para Imam tidak ada yang melarang umat untuk tidak mendengarkan pendapat dan faham yang lainnya. Mereka tidak saling membid’ahkan saling menyesatkan.

Melihat realita yang nyata terjadi kepada mereka, sungguh aku tidak berdaya.

Karena sifat takabur, merendahkan orang selain dari ustadz-ustadznya, sehingga menjadikan mereka sulit menerima peringatan dan nasehat.

Bagi mereka :

– Yang benar adalah orang yang sefaham dengannya

– Yang benar adalah ustadz-ustadznya

– Yang benar adalah yang di sampaikan teman-temannya.

Siapa yang menjamin saudaraku, faham dan keyakinanmu selalu benar. Dan yang di fahami orang lain selalu salah ?

Aku ingin meluruskanmu saudaraku, karena cinta sebagai sesama muslim, tidak lebih dari itu, disamping kewajiban yang di bebankan kepada setiap individu.

Aku tahu saudaraku, kalian terhipnotis oleh tokoh-tokoh kalian. Ustadz-ustadz kalian begitu mahir dan fasih memainkan dalil begitu lantang ketika berhujah.

Sehingga kalian terpana terpesona, terpukau dan menjadikan kalian semakin fanatik dan ta’ashub, semakin besar cintamu kepada mereka, sehingga membutakan hati dan mata kalian.

Kalau sudah begitu tidak akan berarti lagi orang yang menasehati dan memperingatkan kalian, bahkan hujatan dan cela’an bisa di hujamkan kepada siapapun yang datang untuk meluruskan kalian.

Ya Allah hanya kekuasa’anmu yang bisa meluruskan mereka.

Apalah artinya aku ini, yang tidak fasih berdalil yang tidak bisa berhujah.

Jika ku paksakan menasehati, memperingatkan dan meluruskan kalian, yang ku dapatkan pastinya hanya cibiran.

Saudaraku, kalian memang pandai membantah.

Ya . . memang membantah itu mudah, sangat mudah.

Siapapun bisa membantah tak terkecuali orang bodoh bahkan anak kecil sekalipun bisa membuat bantahan bagi siapa saja yang ingin di bantah.

Bisa membantah tidak berarti keyakinanya di bangun diatas ilmu saudaraku, karena tidak semua bantahan itu ada ilmunya, sebab ilmu itu hanya bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, begitu pula bodoh bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, tapi ilmu tidak akan bisa dilihat oleh kebodohan, sebab kebodohan hanya melihat kebodohan sebagai satu-satunya ilmu.

Dan tidak ada yang dapat menyadarkan orang bodoh tentang kebodohannya meski langit runtuh di depannya.

_____

SIAPAKAH ULAMA JARH WA TA’DIL UNTUK SA’AT INI

SIAPAKAH ULAMA JARH WA TA’DIL UNTUK SA’AT INI

Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan hafizhohullah, ketika ditanya, siapakah Ulama jarh wa ta’dil untuk sa’at ini ?

السؤال:

من هم علماء الجرح والتعديل في عصرنا الحاضر ؟

الجواب:

والله ما نعلم أحداً من علماء الجرح والتعديل في عصرنا الحاضر ، علماء الجرح والتعديل في المقابر الآن ، ولكن كلامهم موجود في كتبهم كتب الجرح والتعديل .والجرح والتعديل في علم الإسناد وفي رواية الحديث ، وماهو الجرح والتعديل في سبِّ الناس وتنقصهم ، وفلان فيه كذا وفلان فيه كذا ، ومدح بعض الناس وسب بعض الناس ، هذا من الغيبة ومن النميمة وليس هو الجرح والتعديل

(https://www.youtube.com/watch?v=CLHUdyln3Y8)

Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan hafizhohullah menjawab :

Kami tidak mengetahui siapakah ulama jarh wa ta’dil untuk saat ini. Ulama jarh wa ta’dil saat ini sudah ada di alam kubur. Tetapi perkataan mereka masih ada di kitab-kitab mereka, yaitu kitab jarh wa ta’dil. Jarh wa ta’dil adalah ilmu tentang isnad (sanad) dan mempelajari tentang riwayat hadits. Jarh wa ta’dil bukanlah dengan menjelek-jelekkan dan mendeskreditkan orang lain dengan mengatakan fulan demikian dan demikian, atau memuji sebagian orang dan mencela lainnya. Ini adalah ghibah dan namimah, bukanlah jarh wa ta’dil.

Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan adalah ulama yang jadi rujukan saat ini di Kerajaan Saudi Arabia, termasuk ulama senior dan menjadi anggota Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia). Perhatian beliau sangat besar sekali pada ilmu akidah dan tauhid, padahal beliau lulusan Doctoral dari Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud (Riyadh-KSA) dalam bidang fikih. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi umur beliau.

Riyadh-KSA, 9 Shafar 1434 H

Penerjemah : Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id
http://muslim.or.id/fatwa-ulama/fatwa-ulama-jarh-wa-tadil-ataukah-ghibah.html

______